Penulis dan futurolog Amerika Serikat, Alvin Toffler (1928-2016). (Flickr/Vern Evans)
Menyematkan Alvin dan Fazlur Rahman pada Nama Anak : Penulis dan futurolog Amerika Serikat, Alvin Toffler (1928-2016). (Flickr/Vern Evans)
Penulis dan futurolog Amerika Serikat, Alvin Toffler (1928-2016). (Flickr/Vern Evans)

Menyematkan Alvin dan Fazlur Rahman pada Nama Anak

Alvin Toffler dan Fazlur Rahman pada masanya sangat digandrungi anak-anak muda, karena futuristis.


Umar Jahidin
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah
Alumnus FAI UMS, Pondok Shabran, dan LPM Pabelan

 

Nama Alvin Toffler dan Fazlur Rahman telah menjadi inspirasi penting dalam keluarga saya. Setidaknya, kedua tokoh besar ini saya abadikan pada nama putra kedua saya, Muhammad Alvin Fazlurrahman.

Nama ‘Alvin’ saya pinjam dari Alvin Toffler, seorang pemikir masa depan terkemuka dengan karya-karya yang mengguncang dunia akademik. Sementara ‘Fazlurrahman’ terinspirasi dari Prof Fazlur Rahman, tokoh intelektual Muslim progresif berikut pemikiran yang membuka cakrawala baru dalam studi Islam modern.

Tak hanya itu. Dua perusahaan yang saya rintis juga saya beri nama ‘Alvin’. Pertama, PT Alvin Faris Mandiri yang bergerak di bidang kontraktor dan perdagangan impor. Kedua, PT Alvin Duta Mandiri yang kini aktif di sektor pelatihan dan pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya ke Jepang.

Mungkin kedua perusahaan itu belum besar. Tapi saya percaya, nama adalah doa. Saya berharap, Allah SWT membuka jalan agar keduanya menjadi perusahaan sukses di masa depan dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. Harapan yang sama saya sematkan kepada putra saya, sang pembawa nama, agar kelak menjadi pribadi baik dan bermanfaat, seperti tokoh-tokoh besar yang ia sandang.

Nama-nama ini bukan sekadar pilihan, tapi cerminan dari perjalanan intelektual saya sendiri. Saat masih aktif dalam dunia pemikiran, dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kemudian Kota Mataram, hingga kini menjalani hidup di Tangerang dan Jakarta, saya terus membawa semangat pembaruan dan harapan masa depan yang tertanam dalam nama-nama tersebut.

Aktivisme dan Intelektualisme sebagai Inspirasi

Pada pertengahan dekade 1980-an, saya sering menjadi pembicara seminar atau sekadar narasumber beberapa kelompok diskusi yang saat itu muncul hampir di setiap sudut kampus. Era euforia politik intelektual kampus dari belenggu panjang zaman represif Orde Baru sejak meletus Peristiwa Malari 1974 dan Normalisasi Kebijakan Kampus/Badan Koordinasi Kampus (NKK/BKK) ala Menteri Daoed Joesoef tahun 1978.

Sebuah rentang masa kebebasan kampus, walau masih terbatas pada ranah aktivitas intelektual yang zero topik politik, baik politik amar makruf nahi mungkar, apalagi politik kekuasaan. Hal terakhir, yakni membincangkan politik praktis-kekuasaan sama dengan menggali lubang kubur sendiri. Dengan dalil demi stabilitas pembangunan maka riak-riak perbedaan sekecil apa pun ditolak dan diamputasi oleh para penguasa.

Karena itu, teman-teman aktivis kampus era awal 1980-an hingga awal dekade 1990-an cenderung melakukan aktivitas yang tidak bersentuhan dengan politik. Semua kalangan mencari amannya sendiri-sendiri.

Beberapa tokoh intelektual seperti Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Arief Budiman, dan Miriam Budiardjo masih sering berdiskusi soal politik, tapi dikemas dalam diksi yang halus, biar aman. Sesekali keras, tapi kebanyakan harus lentur ikut politik arus utama orde Baru.

Karenanya, mayoritas aktivis kampus cenderung berbicara tentang revolusi intelektual agar bisa mengejar ketertinggalan di bidang Iptek atau supaya dapat mengejar kemajuan Jepang, Korea Selatan, dan negara makmur lainnya. Tekad kuatnya, Indonesia harus menjadi ‘Macan Asia’.

Salah satu tema menarik yang sempat saya ikuti ketika itu adalah kebangkitan pemikiran Islam ala Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Begitu banyak alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang dikirim ke negara-negara Barat untuk mengenyam studi Islam. Mayoritas memilih Universitas Chicago. Di sana, studi Islam diampu oleh Sang Imam Besar Pemikir Islam, Prof Fazlur Rahman.

Sepulangnya ke Tanah Air, para murid Fazlur Rahman tersebut ditambah alumni kampus lain dari Timur Tengah, membangun dan merawat gerakan intelektual, seperti pembaruan pemikiran Islam, modernisme Islam, hingga terakhir, gerakan neo-modernisme.

Sebagai bagian dari gerakan ilmu sosial, pemikiran Islam juga menyasar berbagai bidang sosial lainnya, termasuk pemikiran futurulog Ziauddin Sardar tentang teori perubahan sosial masa depan. Di tangannya, pemikiran Alvin Tofller yang begitu kondang diperbandingkan dan disandingkan dengan pemikiran Naquib al-Attas bahkan dikaitkan dengan era Nabi Sulaiman yang mengirim surat kepada Ratu Bilqis dengan perantara seekor burung.

Tentang relevansi pengiriman surat lewat seekor burung itu, oleh salah satu dosen saya, M. Abdul Fattah Santoso, diuraikan dengan jelas dalam sebuah khotbah di kampus UMS. Mencoba mengaitkan relevansi Teori Gelombang Ketiga, Ustaz Fattah menjelaskan betapa Al-Quran telah membahas tentang tahapan peradaban informasi lewat kisah yang terjadi jauh semenjak 1500 tahun lalu. Saya lupa judul persisnya, tapi yang jelas hemat saya, khotbah Ustaz Fattah tergerak oleh pemikiran Alvin Toffler, Ziaudin Sardar, dan kawan-kawan yang sangat populer.

Topik-topik seminar dan diskusi semacam ini menjadi ciri utama gerakan intelektual kampus di Indonesia menjelang atau memasuki akhir abad ke-21 yang menurut Toffler termasuk tahapan atau era dengan ciri ‘keunggulan informasi’.

Mengkritik Teori Tofller

Tetapi di sisi lain, teori Alvin Toffler bukan tanpa kelemahan. Jangankan masa sekarang yang mungkin di belahan bumi tertentu teorinya tidak lagi relevan, ketika itu saja saya mengkritik relevansi tiga tahap kemajuan peradaban ala Toffler, yakni gelombang agraris, industri, dan informasi.

Gelombang pertama tentang peradaban agraris. Bagaimana menjelaskan masih banyaknya penduduk Afrika dan Asia yang hidup nomaden? Padahal, tahap agraris ditandai dengan orang-orang yang mulai tinggal menetap.

Begitu juga gelombang kedua, tahap industrialisasi. Orang pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, atau daerah tertinggal lain masih takut pergi ke kota. Padahal, pada era tersebut, menurut Toffler, masyarakat desa beramai-ramai urbanisasi ke kota. Sezaman saya kecil, pergi ke Bima, sebuah kota kecil di timur sana, dari Labuan Bajo, tak ubahnya seperti 20 tahun lalu saya mau pergi ke Singapura dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Artinya, betapa masyarakat kita tidak seluruhnya berkembang sesuai tahapan peradaban ala Alvin Toffler.

Demikian juga era awal peradaban gelombang ketiga, era informasi. Kemajuan teknologi saat saya masih kuliah di UMS, misalnya, sebagian masyarakat kita bisa mengakses langsung hiruk-pukuk Perang Teluk lewat televisi, atau tekonologi parabola bagi yang tinggal di kota kecil, terutama luar pulau Jawa. Tapi, apakah pedalaman Papua bisa menikmati hal yang sama? Tentu tidak. Di sinilah lemahnya teori tahapan peradaban Tofller.

Tapi bagaimanapun, teori yang dibangun Alvin Toffler tentang gelombang peradaban bisa dipakai untuk menjelaskan ciri-ciri umum setiap tahap kemajuan peradaban manusia. Sama seperti teori Clifford Geertz tentang trikotomi abangan, santri, dan priyayi untuk menjelaskan kelas sosial umat Islam saat itu.

Apakah teori Geertz sekarang masih relevan? Rasa-rasanya banyak anak santri yang sudah menjadi priyayi, atau abangan menjadi santri. Rasa-rasanya teori-teori besar tersebut sangat sesuai untuk menjelaskan realitas pada zamannya, meski tidak sepenuhnya bisa menjadi alat baca terhadap realitas perubahan masyarakat terbaru.

Editor: Arif Giyanto


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik