CEO Alvin Group Umar Jahidin (kiri), Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia (tengah), dan Ketua BAZNAS Banten Ketua Baznas Provinsi Banten Wawan Wahyuddin (kanan) berfoto bersama usai penandatanganan MoU. (Uje Official)
Membangun Mimpi Menemukan Jalan : CEO Alvin Group Umar Jahidin (kiri), Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia (tengah), dan Ketua BAZNAS Banten Ketua Baznas Provinsi Banten Wawan Wahyuddin (kanan) berfoto bersama usai penandatanganan MoU. (Uje Official)
CEO Alvin Group Umar Jahidin (kiri), Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia (tengah), dan Ketua BAZNAS Banten Ketua Baznas Provinsi Banten Wawan Wahyuddin (kanan) berfoto bersama usai penandatanganan MoU. (Uje Official)

Membangun Mimpi Menemukan Jalan

Diperlukan keberanian memulai, keteguhan dan sabar untuk bertahan, serta kesediaan untuk bekerja bersama.


Umar Jahidin
CEO Alvin Group
Alumnus FAI dan Pondok Shabran UMS
Mantan Ketua Pokja TKI Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah
Alumnus Magister Keuangan Syariah ITB Ahmad Dahlan Jakarta
Mahasiswa Doktoral Ekonomi Manajemen UMJ Jakarta

 

Where there is a will, there is a way (Di mana ada kemauan, di situ ada jalan). Man jadda wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil). Dua peribahasa ini sering dimaknai sebagai ungkapan aforisme yang mengandung kebenaran universal. Bahkan keduanya kerap dijadikan moto hidup yang memberi energi motivasional bagi siapa saja yang ingin melampaui batas dirinya.

Mengawali tulisan, saya sengaja mengutip dua moto tersebut. Karena dalam banyak hal, dua aforisme itu tidak sekadar indah untuk diucapkan, tetapi benar-benar hidup dalam praktik keseharian, terutama bagi mereka yang berkeinginan untuk meningkatkan kualitas kinerja dan meraih berbagai capaian dalam hidupnya.

Capaian memang bersifat relatif. Setiap orang memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda. Antara satu individu berbeda dengan individu lain. Antara satu fase kehidupan berbeda dengan fase berikutnya. Namun, di balik relativitas demikian, ada satu hal yang sulit dibantah, yakni tidak ada keberhasilan yang lahir tanpa kesungguhan.

Kemauan merupakan titik awal, tetapi kemauan semata tidak cukup. Kemauan harus menjelma menjadi ketekunan, kedisiplinan, dan keberanian untuk tetap berjalan bahkan ketika jalan yang dimaksud belum sepenuhnya terlihat.

Sering kali kita membayangkan ‘jalan’ sebagai sesuatu yang sudah tersedia. Artinya, jalan yang tinggal dipilih, kemudian dilalui. Padahal, dalam realitasnya, jalan itu justru baru tampak setelah kita melangkah.

Dalam banyak kasus, jalan bukan sekadar ditemukan, melainkan diciptakan. Jalan terbentuk dari jejak langkah yang berulang, kegagalan yang tidak membuat kita berhenti, serta keyakinan yang terus dirawat dan membara.

Di sinilah makna substantif dari dua ungkapan tadi menemukan relevansinya. Will bukan sekadar keinginan sesaat, melainkan tekad yang bertahan dan terus diperjuangkan. Sementara jadda bukan hanya kerja keras, tetapi juga kesungguhan hati dan konsistensi dalam tindakan. Ketika keduanya bertemu maka way (jalan) dan wajada (hasil) bukan lagi sesuatu yang mustahil untuk digapai.

Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi dan godaan serba instan, nilai kesungguhan terkadang sering tergerus. Banyak orang ingin berhasil cepat, tetapi enggan melalui proses panjang. Pada titik ini, dua moto tersebut seakan hadir sebagai pengingat sederhana namun tajam bahwa tidak ada jalan pintas yang benar-benar bernilai tanpa usaha sepadan yang menyertainya.

Oleh karena itu, pertanyaannya bukan lagi ‘apakah jalan itu ada atau tidak’, melainkan ‘seberapa kuat kemauan kita untuk mencari bahkan menciptakannya’ serta ‘seberapa jauh kita bersedia bersungguh-sungguh untuk menjalaninya’.

Dari Serang hingga Solo Raya

Serang, sebagai ibu kota Provinsi Banten, dan beberapa daerah di sekitarnya, selama ini dikenal sebagai salah satu basis Pekerja Migran Indonesia (PMI). Tradisi merantau demi memperbaiki ekonomi keluarga telah lama tumbuh di masyarakatnya.

Tidak mengherankan ketika wilayah tetangganya, Cilegon, terlebih dahulu bergerak untuk bergabung dalam pelatihan bahasa Jepang agar bisa bekerja ke Negeri Sakura, daerah Serang pun mulai ikut menggeliat.

Di bawah komando Pak Karim yang diberi mandat, gerakan itu tidak berhenti pada wacana. Sebanyak 35 peserta telah berhasil direkrut dan kini sudah masuk tahap pelatihan. Sementara proses rekrutmen terus berjalan setiap hari Kamis di setiap pekan yang berlangsung di aula Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Provinsi Banten.

Hingga saat ini, hampir 500 pendaftar telah tercatat. Dari angka itu, ditargetkan terseleksi 105 orang. Hasil seleksi rencananya dibagi menjadi tiga kelas, pada bulan Juni mendatang.

Menariknya, kendala klasik berupa pembiayaan justru menemukan jalan baru. BAZNAS Banten siap bergabung untuk membantu pembiayaan. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pembiayaan antara BAZNAS Banten dan perusahaan yang saya bangun, PT Alvin Duta Mandiri telah dilaksanakan beberapa hari lalu.

Pada saat yang sama, Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, membuka peluang kolaborasi dengan investor melalui skema crowd funding berbasis bagi hasil. Sebuah pendekatan yang tidak hanya solutif, tetapi juga membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat.

Apa yang terjadi di Serang pada dasarnya adalah pengejawantahan nyata dari dua moto di awal tulisan, yakni kemauan yang kuat akan dipertemukan dengan kesungguhan yang konsisten hingga jalan benar-benar tercipta.

Hal serupa terjadi di Kota Solo dan sekitarnya atau eks-Keresidenan Surakarta. Di bawah komando sahabat lama sesama alumnus aktivis pers kampus Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sutarmo, dalam tiga bulan terakhir, pergerakannya menunjukkan hasil yang tidak kalah menggembirakan. Sebagai Kepala Perwakilan PT Alvin wilayah Solo Raya, ia berhasil menggerakkan jaringan yang cukup luas.

Sebanyak 15 peserta telah direkrut dan siap mengikuti pelatihan di Jakarta pada 20 Mei yang akan datang. Mereka berasal dari berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk SMK Muhammadiyah Sukoharjo.

Tidak berhenti di situ. Pada 7 Mei 2026 akan digelar sosialisasi bersama 42 Bursa Kerja Khusus (BKK) SMK se-Wonogiri dengan dukungan Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Wonogiri. Dalam kesempatan itu, PT Alvin diundang untuk turut memberi arahan tentang peluang kerja di Jepang.

Jaringan tersebut bahkan meluas hingga ke Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Relasi dan pengalaman panjang Mas Tarmo, begitu saya memanggilnya, menjadi modal sosial yang sangat penting dalam memperluas jangkauan gerakan. Semasa kariernya, ia pernah beberapa kali menjabat sebagai pimpinan di lingkungan pemerintah kabupaten.

Dari data yang ada, diperkirakan akan terbentuk tiga kelas baru dengan total 105 peserta di area perwakilan Solo Raya pada bulan Juni dan Juli 2026.

Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, pada bulan Juli 2026, jumlah peserta pelatihan di PT Alvin diperkirakan mencapai 348 orang. Mereka tersebar di beberapa titik, yakni Jelambar Jakarta Barat (70 orang), Tigaraksa Tangerang (68 orang), Serang (105 orang), dan Solo Raya (105 orang).

Berita baiknya, siswa yang berjumlah 70 orang di Jelambar menyelesaikan masa belajarnya pada bulan Mei dan Juni 2026. Selanjutnya, sudah ada calon user (pengguna) yang siap mempekerjakan mereka di Jepang.

Angka-angka ini tentu penting. Namun yang jauh lebih penting adalah makna di baliknya. Di sana ada mimpi untuk membantu sebanyak mungkin anak negeri agar mendapatkan kesempatan bekerja di luar negeri secara lebih terampil dan bermartabat. Di sana ada harapan keluarga untuk hidup lebih baik.

Ada pula kontribusi nyata bagi negara. Apalagi kalau bukan melalui peningkatan kualitas tenaga kerja dan potensi devisa yang dihasilkan.

Pada akhirnya, membangun mimpi memang tidak cukup hanya dengan membayangkannya. Kita dituntut untuk memiliki keberanian memulai, keteguhan dan sabar untuk bertahan, serta kesediaan untuk bekerja bersama. Semuanya tidak lahir secara tiba-tiba, tapi tumbuh dari kemauan, dirawat oleh kesungguhan, dan dijalankan secara bersama-sama.

Ketika semua itu bertemu maka mimpi tidak lagi sekadar angan, tetapi berubah menjadi gerakan. Sebuah gerakan yang pelan tapi pasti... mampu menggerakkan negeri.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik