Titik Singgah Bendogantungan, Sebuah Rajutan Toponimi :

Titik Singgah Bendogantungan, Sebuah Rajutan Toponimi

/ Literatur

Bendogantungan termasuk dalam wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan.


Sentot Suparna
Head of Klaten Library

 

Di sekitar Kota Klaten, banyak nama kampung yang membawa kesan membumi, tua, dan sarat sejarah. Sebut saja, Jakapuring, Sangkalputung, Tegal Kepatihan, Randualas, juga Bendogantungan. Pada umumnya, nama-nama tersebut berasal dari catatan sejarah atau cerita rakyat turun-temurun, dari mulut ke mulut.

Salah satu nama kampung yang berasal dari cerita rakyat, yakni Bendogantungan. Secara administratif, Bendogantungan termasuk dalam wilayah Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan.

Letak Bendogantungan sangat strategis, di persimpangan jalan raya Solo-Jogja. Jalan ke arah selatan menuju Wedi dan Bayat, sekaligus jalur alternatif ke Gunungkidul, Sukoharjo, serta Wonogiri. Sementara jalan ke arah utara menuju Puluhwatu dan jalur alternatif ke Jatinom maupun Boyolali.

Sejak zaman kolonial, Bendogantungan sudah dikenal masyarakat luas sebagai tempat transit yang cukup vital. Mengapa vital, karena mampu menjadi simpul distribusi perekonomian bagi daerah sekitar.

Geliat perekonomian di Bendogantungan pernah ditandai adanya sebuah pasar tradisional yang bertahan hingga tahun 1990-an. Seiring dinamika yang ada, lokasi pasar tradisional tersebut beralih fungsi menjadi area pertokoan.

Dalam sejarah perjuangan, Bendogantungan menyimpan kisah heroik selama berlangsung Perang Kemerdekaan pada rentang waktu tahun 1947 hingga 1949. Kronik epik kepahlawanan ini belum banyak yang familier.

Pertempuran sengit antara Tentara Pelajar (TP) melawan pasukan Belanda pernah terjadi di Bendogantungan. Dalam pertempuran tersebut seorang anggota TP bernama Sunadi, gugur. Ketika itu, banyak pemuda Bendogantungan yang bergabung sebagai anggota Tentara Pelajar dan turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Muasal nama ‘Bendogantungan’ berkaitan dengan kisah Bupati Semarang pada era Kerajaan Demak, yakni Ki Ageng Pandanaran. Suatu ketika, Ki Ageng menerima petuah dari Sunan Kalijaga untuk turut menyebarkan ajaran Islam ke daerah selatan.

Ki Ageng pun mulai melakukan perjalanan ritual dari Semarang ke arah selatan, hingga akhirnya sampai dan menetap di sebuah daerah bernama Bayat. Kelak, Bayat menjadi salah satu kecamatan populer di bagian selatan Kabupaten Klaten.

Konon di suatu tempat, perjalanan Ki Ageng Pandanaran dihalangi oleh makhluk gaib berupa jin. Setelah saling mengadu kesaktian, jin tersebut pun dapat dikalahkan. Jasadnya kemudian digantung pada sebatang pohon, bernama bendo.

Sejak saat itu, tempat terjadinya peristiwa ini dinamai Bendogantungan. Sebuah tempat yang terus berkembang hingga membentuk sebuah kampung ramai penduduk, seperti sekarang.

Pohon bendo (Artocarpus elasticus) kurang lebih serupa pohon nangka dan sukun. Batang pohonnya yang tumbuh tinggi bermanfaat sebagai peneduh dan penyimpan air. Buahnya pun beraroma manis, mirip cempedak. Di tempat lain, pohon bendo, disebut dengan pohon terap, tekalong, teureup, atau tarok.

Menurut penuturan masyarakat setempat, sekitar tahun 1970-an memang pernah ada pohon bendo yang hidup menjulang di belakang Pasar Bendogantungan. Namun, tidak ada yang tahu persis, berapa tahun umur pohon bendo tersebut.

Tempat Singgah Masyhur

Hingga sekarang belum ditemukan data yang valid sebagai rujukan, tentang kapan dan bagaimana suatu tempat bernama Bendogantungan mulai ada. Selain bersumber pada cerita rakyat, berkembang pula opini masyarakat tentang muasal nama Bendogantungan. Opini ini merujuk pada penggunaan istilah ‘gantungan’ atau ‘gantung’ dalam bahasa Jawa.

Pada era pemerintahan keraton maupun kolonial, penggunaan istilah ‘gantungan’ atau ‘gantung’ sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, definisi ‘gantungan’ atau ‘gantung’ bisa saja berbeda-beda, sesuai konteksnya. ‘Gantungan’ bukan hanya diartikan sebagai tempat menggantungkan benda.

Dalam silsilah orang Jawa, ada istilah ‘pitung turunan’ yang artinya tujuh generasi pada urutan garis keturunan. Urutannya dimulai dari anak, sampai generasi ke tujuh yang disebut ‘gantung siwur’.

Keturunan generasi ke delapan dan seterusnya memiliki istilah masing-masing. Namun, jarang sekali digunakan. Pada istilah ‘gantung siwur’, kata ‘gantung’ mengandung pengertian tentang sebuah posisi atau urutan, sebelum memasuki urutan berikutnya.

‘Bocah tawang gantungan’ adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut anak kembar namun proses kelahiranya berselang satu hari. Istilah ‘gantungan’ dalam konteks ini memiliki dua makna, yakni urutan dan jeda waktu.

Dari lingkungan keraton, ada istilah ‘anggantung seba’. Istilah ini sering digunakan dalam dunia pewayangan, yang artinya menghadap raja untuk menunggu perintah. Dalam hal ini, kata ‘anggantung’ mengandung pengertian menunggu.

Selain itu, ada istilah ‘talang gantungan’ yang juga sering digunakan dalam dunia pewayangan. Dimaknai sebagai tempat tak kasat mata yang dihuni ruh-ruh jahat. Para ruh sering membantu Kurawa dalam upaya menyirnakan Pandawa.

Namun, ada yang memaknai istilah ‘talang gantungan’ sebagai tempat bersemayam ruh-ruh untuk menunggu fase kehidupan berikutnya. Kata ‘gantungan’ pada istilah ‘talang gantungan’ diartikan sebagai tempat untuk menunggu proses atau urutan kejadian berikutnya.

Istilah ‘gantung siwur’, ‘bocah tawang gantungan’, ‘anggantung seba’, dan ‘talang gantungan’ sama-sama terdiri dari kata ‘gantungan’ atau ‘gantung’. Maknanya pun identik, yakni ada unsur pengertian ‘tempat, jeda waktu, dan fase berikutnya’. Beberapa pengertian itu menjadi rujukan sebagian masyarakat dalam memaknai istilah ‘bendogantungan’.

Dengan kata lain, istilah ‘bendogantungan’ diartikan sebagai tempat singgah atau menunggu yang ditandai tumbuhnya sebatang pohon bendo, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Dalam istilah yang lebih populer dan modern, disebut juga sebagai ‘tempat transit’ yang ditandai tumbuhnya sebatang pohon bendo.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik