Ketua LBH MHH PW Aisyiyah Jawa Tengah, Siti Kasiyati, menjadi penceramah Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Al-Ghaniy Baturetno Wonogiri. Minggu (26/4/2026). (Humas Masjid Al-Ghaniy)
Teladani Kartini, Siti Kasiyati Ajak Bangun Lingkungan Keluarga Berilmu : Ketua LBH MHH PW Aisyiyah Jawa Tengah, Siti Kasiyati, menjadi penceramah Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Al-Ghaniy Baturetno Wonogiri. Minggu (26/4/2026). (Humas Masjid Al-Ghaniy)
Ketua LBH MHH PW Aisyiyah Jawa Tengah, Siti Kasiyati, menjadi penceramah Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Al-Ghaniy Baturetno Wonogiri. Minggu (26/4/2026). (Humas Masjid Al-Ghaniy)

Teladani Kartini, Siti Kasiyati Ajak Bangun Lingkungan Keluarga Berilmu

/ Surakartan

Ilmu sebagai cahaya menjadi dasar filosofis karya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’.


BATU LOR, Baturetno | Lingkungan keluarga sangat menentukan baik-buruknya sebuah masyarakat. Dalam kesibukan setiap keluarga yang menyita banyak waktu, upaya untuk menuntut ilmu dalam berbagai cara dan kesempatan, dapat berkontribusi pada pembangunan keluarga yang harmonis.

Pesan tersebut disampaikan penceramah Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Al-Ghaniy Baturetno Wonogiri, Siti Kasiyati, pada Minggu (26/4/2026). Acara Refleksi Hari Kartini 2026 ini mengangkat tema ‘Harmoni Kesehatan Mental dan Fisik Kartini Modern’.

“Raden Ajeng Kartini dahulu sowan kepada Kiai Sholeh Darat di Semarang untuk mengaji tafsir Al Quran, terutama Al Fatihah dan Al Baqarah. Ia adalah teladan bagi kita semua untuk terus belajar dan melek huruf, termasuk belajar Al-Quran,” ujar Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta ini.

Karena, sambungnya, ilmu adalah cahaya. Kartini, pada masanya, meneladankan pentingnya ilmu bagi perempuan. Dengan ilmu sebagai cahaya, kegelapan akan hilang, sesuai judul buku karya Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Lebih jauh, Ketua Lembaga Bantuan Hukum Majelis Hukum dan HAM (LBH MHH) Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Tengah itu, menjelaskan bahwa dengan ilmu yang cukup, kesehatan mental dan fisik para perempuan dapat dicapai.

“Akses pendidikan dan informasi yang tepat akan menyehatkan mental para perempuan. Ilmu membantu kita untuk bisa membedakan, mana yang baik dan mana yang buruk. Berkat ilmulah, jiwa, ruhani, batin, dan pikiran kita akan seimbang,” tuturnya.

Terlebih di tengah persoalan kekinian yang semakin mengkhawatirkan. Selain perekonomian yang melambat, di Kabupaten Wonogiri, kutip Siti, tercatat 480 kasus perceraian hanya dalam rentang waktu empat bulan, Januari-April 2026.

“Angka perceraian di Wonogiri terbilang tinggi. Penyebabnya bermacam, tapi komunikasi pasangan suami-istri berperan besar. Komunikasi hanya berlangsung sehat, bila lingkungan keluarga sehat. Salah satunya dengan terus menambah keilmuan,” kata alumnus Doktoral Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.

Bu Atik, begitu ia akrab disapa, juga menggaris-bawahi manfaat belajar dan mengajar. Artinya, setiap orang diwajibkan untuk menerima dua hal ini, bukan hanya salah satunya bahkan bila pun ia berprofesi sebagai pengajar.

Seorang guru atau dosen, karena merasa telah mengajar sering kali menganggap kegiatan belajar sebagai hal yang tak lagi wajib. Padahal, ketika tidak mengajar, datanglah kesempatan untuk belajar. Setiap orang kemudian membiasakan diri untuk belajar, salah satunya mendengar orang lain berbicara, atau menerima anjuran dan pengingat baik.

“Mengapa keluarga berkualitas itu penting? Sebab, di luar sana, banyak sekali perilaku tidak baik yang pada akhirnya akan bersinggungan dengan keluarga kita. Bayangkan, keluarga yang dibangun sungguh-sungguh saja bisa ditembus, apalagi bila tidak. Nah, ilmu menjadi nutrisi utama pembentukan keluarga yang berkualitas,” terang Siti Kasiyati.

Diawali Tahsin

Kajian Ahad Pagi Masjid Agung Al-Ghaniy Baturetno Wonogiri dimulai dengan tahsin, antara pukul 07.00 hingga 07.30. Jamaah menyiapkan mushaf atau aplikasi Al-Quran di gawai masing-masing, kemudian membaca Al-Quran bersama-sama.

Agenda tahsin diorientasikan untuk terus memperbaiki, meningkatkan, dan memperindah bacaan Al-Quran, sesuai kaidah tajwid dan makhraj huruf yang benar. Upaya ini dimaksudkan sebagai cara mendekatkan diri kepada Al-Quran, lebih baik lagi, setiap harinya.

Usai tahsin, barulah kajian dibuka, dengan menghadirkan penceramah dari berbagai latar belakang keilmuan. Bukan hanya penceramah laki-laki, takmir masjid juga mengundang penceramah perempuan, sebagai bukti bahwa baik laki-laki maupun perempuan layak menjadi narasumber keilmuan, asalkan kompeten.

Kajian berlangsung hangat, karena biasanya penceramah selalu menghubungkan tema dengan keseharian para jamaah. Tidak sedikit yang lalu berinteraksi dua arah dengan para hadirin. Dengan begitu, nilai-nilai yang diharapkan dapat terinternalisasi lebih optimal.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik