Serba-Serbi Berhaji, Mulai dari Buya Hamka Hingga Ali Syariati
/ Literatur
Dahulu, banyak jemaah haji kekurangan makanan hingga menyebabkan sakit bahkan meninggal dunia.
M. Ghaniey Al Rasyid
Founder Sala Library
Alumnus Manajemen FEB UMS
Ketua Umum PC PMII Surakarta 2022
Bila mengingat haji maka kita mengingat kesabaran melekat dalam diri jemaah haji. Sebab, mereka harus mengantre bertahun-tahun untuk mendapatkan kesempatan berhaji. Penantian mereka terbayar saat memutuskan berjumpa di Kakbah.
Menurut L. Stoddard dalam Dunia Baru Islam, ibadah haji adalah muktamar abadi umat Islam, di mana delegasi dari tiap penjuru dunia Islam bertemu. Maka dari itu, di balik praksis berhaji, terdapat sebuah rasa persatuan, persamaan, dan kemerdekaan.
Ibadah haji tercatat dari waktu ke waktu. Berhaji adalah sebuah tekad kuat. Teoretikus sosial asal Iran, Ali Syariati, pernah menuliskan makna praksis berhaji secara puitis. Menurutnya, haji merupakan ajaran Islam secara teoretis dan praksis. Dengan kata lain, agar umat Islam mengetahui arti kenabian sekaligus pentingnya persatuan dan nasib suatu negara Muslim.
Makkah Al-Mukarramah akan dikunjungi jutaan Muslim dari penjuru dunia. Ali Syariati mengajak para jemaah haji untuk merenungi ibadahnya.
“Haji adalah kontemplasi keagamaan untuk memahami arti penciptaan, sejarah, keesaan, ideologi Islam dan ummah,” tulis Ali.
Praksis berhaji di Indonesia pernah terekam dalam buku Henri Chambert-Lloir berjudul Naik Haji di Masa Silam (1482-1964). Dalam buku itu, puluhan memoar dan selebaran informasi mengenai haji terkumpul. Ada yang berkesempatan menuliskan pengalamannya di Tanah Suci. Dari bunga rampai itu, terdapat sebuah kesamaan dari para jemaah selama empat abad (1482-1980).
Pada abad ke-15 hingga 20, jemaah menghadapi pencobaan hebat dalam pelayaran selama ibadah haji. Di sisi lain, mereka menghadapi kekurangan makanan hingga menyebabkan beberapa jemaah sakit. Lebih parahnya, ada yang meninggal dunia. Bahkan perkara keuangan sempat menghantui para jemaah haji pada 1872-1928.
“Banyak jemaah sama sekali kehabisan uang. Jemaah yang kurang beruntung akan meminjam uang atau masuk dalam ruang kelam perbudakan. Beberapa yang kurang beruntung dikirim ke pedalaman, dan tak pernah terdengar kembali nasibnya,” catat buku tersebut.
Kisah asketisme berhaji pernah dinarasikan Buya Hamka dalam buku Kenang-Kenangan Hidup. Buku ini mengungkap sepenggal pengakuan, tentang bagaimana keputusan Buya Hamka dalam berhaji tak semudah yang dibayangkan. Hamka sempat menjajal profesi buruh di sebuah percetakan untuk mendapatkan modal finansial agar bisa menuntaskan ibadah haji.
Sebelum tahun 1951, jemaah haji banyak ditemui membawa bekal dagangan saat berhaji. Keputusan itu diambil untuk bertahan hidup serta mengumpulkan uang demi kembali ke kampung halaman. Pemerintah pun menerbitkan larangan untuk berdagang di Tanah Suci, meski akhirnya menimbulkan perdebatan.
Pengembaraan Menuju Penyucian Diri
Umat Muslim di Indonesia berjumlah jutaan orang. Keberadaan jemaah haji dari Indonesia cukup penting disimak. Ada sebuah pertautan penting antara pengorbanan dan ketaatan para jemaah haji menuju Makkah. Berhaji bukan perkara remeh. Perlu pertimbangan matang dari aspek batin sampai finansial.
Pada mulanya, kapal adalah sahabat para jemaah haji. Mereka mengarungi ribuan kilometer menjumpai Tanah Suci. Keputusan para Muslim untuk berhaji, mendorong pemerintah Indonesia untuk menciptakan regulasi penting dalam menjamin keberlangsungan haji.
Majalah Panji Masyarakat dalam artikel berjudul ‘Meninjau Sistem Baru Perjalanan Haji’ yang terbit pada 31 Oktober 1981, mencatat awal peniadaan transportasi kapal untuk jemaah haji. Kala itu, Menteri Agama Alamsyah Ratu Perwiranegara berkeputusan mengubah transportasi haji dari kapal ke pesawat terbang, untuk alasan efektivitas dan keselamatan para jemaah haji.
“Setiap tahun musim haji, sudah rutin kita mendengar kekacauan dalam perjalanan ini. Itulah sebabnya setiap muncul peraturan baru, kita selalu menyambut dengan harapan,” begitu torehan Panji Masyarakat.
Haji mencerminkan seorang Muslim yang kembali kepada Allah. Ini adalah kisah yang tak mudah. Haji menjadi representasi pengembaraan menjemput sebuah tekad bulat menuju Kakbah di Makkah.
Buku gubahan Muhammad Asad berjudul Djalan Menuju Islam mengisahkan tentang tekad berhaji seperti sebuah pengembaraan menuju penyucian diri. Asad menulis dengan perumpamaan praksis berhaji seperti air dan kolam.
“Apabila air tetap tergenang dalam sebuah kolam, maka dia akan menjadi boyak dan berlumpur. Akan tetapi manakala air itu mengalir dan bergerak, pasti dia akan menjadi jernih. Demikian pula manusia dengan pengembaraannya.”
