Nyawah Mamah, Filosofi Kepemimpinan Desa Pundungan
/ Inspirasi
Karena berbagai hal, banyak keluarga petani semakin ragu untuk bertani.
Danang Setiawan
Kepala Desa Pundungan Juwiring Klaten
Alumnus Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia
Saya lahir, tumbuh, dan besar di Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten. Luas wilayahnya terbilang tak terlalu luas, sekitar 8,79 kilometer persegi atau 879 hektare. Luasan tersebut menjadi tempat bermukim 1.565 jiwa, lahan pertanian padi sekira 70 hektare, dan lebih banyak areal lagi adalah lahan pertanian.
Sepintas, dapat disimpulkan, sumber daya utama yang dimiliki Desa Pundungan tentu saja lahan pertanian. Lebih spesifik, lahan pertanian basah, yakni persawahan. Komoditas tanamnya pun jelas, yakni tanaman pangan, berupa padi.
Analisisnya sederhana. Ketika lahan pertanian itu dapat digarap optimal, rasanya tidak mungkin ada warga Desa Pundungan yang berkekurangan. Bukan hanya tercukupi kebutuhan pangannya, melainkan dapat mengembangkan diri lebih baik dengan penjualan hasil atau hilirisasi lain.
Namun kenyataannya tidak demikian. Karena berbagai hal, banyak keluarga petani semakin ragu untuk bertani. Sebagian besar lahan persawahan di Desa Pundungan terbengkalai, tidak ada yang mengurusnya. Areal sawah pun menjadi tidak produktif.
Sebagian besar warga Desa Pundungan semakin hari semakin menganggap profesi petani sebagai pekerjaan kelas bawah yang melelahkan, kumuh, dan tidak menjanjikan. Harga jual hasil panen yang fluktuatif, ketergantungan pada tengkulak, dan risiko gagal panen yang tinggi mau tidak mau membuat pendapatan petani sulit diprediksi.
Banyak orang tua yang berprofesi sebagai petani akhirnya menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin agar tidak bernasib sama dengan mereka sebagai petani. Tidak sedikit dari para orang tua tersebut yang akhirnya menjual lahan sawah untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Ironisnya, ketika generasi selanjutnya telah menyelesaikan studi, tak semua berhasil mentransformasi diri. Meskipun berhasil, lahan sawah tersisa yang dimiliki orang tuanya pun tidak tergarap optimal. Sang orang tua telah masuk usia senja, sedangkan anaknya tidak berkemampuan mengelola pertanian.
Praktis, banyak lahan pertanian yang terbengkalai. Sebagian lahan yang dapat dikelola, biasanya disewakan. Dari kerja sama sewa itulah para orang tua yang dahulu bertani mendapat penghasilan, selain, bila beruntung, ditambah dari pendapatan anak-anaknya. Namun intinya, olah sumber daya pertanian semakin meredup di tengah ingar-bingar marketplace digital yang menggiurkan.
Laku Tani
Pada periode pertama jabatan saya sebagai Kepala Desa, upaya memperbaiki mindset para petani pun saya tempuh. Berapa pun besarnya investasi di sektor pertanian tidak akan berujung pada hasil yang baik, bila mindset petani tidak diubah.
Para petani tidak lagi hanya berpendapat bahwa ‘asalkan bisa panen’. Saya berusaha mengubah pandangan itu menjadi ‘kita semua panen’, serta didukung dengan kerja kolaboratif penuh kebersamaan.
Selain itu, arah kebijakan kepemimpinan saya sebagai Kepala Desa pada periode pertama berfokus pada Infrastrukur pemukiman dan kantor desa yang modern. Dengan begitu, banyak pihak luar desa yang tertarik bekerja sama dengan Desa Pundungan.
Banyaknya pihak luar desa, termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang masuk maka akan bisa mengubah mindset warga desa juga para petani. Bila hal itu sudah terjadi maka investasi di sektor pertanian akan berdampak dan berhasil.
Pada periode kedua kepemimpinan saya sebagai Kepala Desa Pundungan, saya mulai menjalani laku tani. Saya turun ke sawah dan bekerja sebagai petani. Sekujur tubuh mulai menghitam akibat paparan sinar matahari. Saya mulai terbiasa bermandi lumpur atau gatal-perih berkegiatan di sawah.
Dari musim tanam satu ke musim tanam setelahnya, saya terus melakukan evaluasi. Sampailah saya pada capaian keberhasilan saya sebagai petani. Bila direncanakan dengan baik dan dipraktikkan dengan disiplin tinggi, atas izin Allah SWT, profesi petani ternyata bisa mencukupi kebutuhan dasar keluarga saya bahkan sedikit berlebih.
Lebih dari itu, berinteraksi langsung dengan alam membuat saya semakin paham, apa arti berusaha dan apa makna berdoa. Baik-tidaknya hubungan manusia dengan alam sangat menentukan kualitas kehidupan manusia. Bahkan rencana dan praktik yang baik, tapi tidak serentak dilakukan dalam satu kawasan, bisa saja berbuah kerusakan. Hama tikus, menjadi salah satu contohnya.
Desa Tani
Sekian laku tani, saya lantas memiliki gagasan pertanian terpadu. Artinya, Desa Pundungan mampu memproduksi bermacam komoditas pangan. Selain pertanian, perkebunan dan peternakan potensial dikembangkan, untuk bersumbangsih pada perekonomian desa. Sawah, peternakan, dan pengelolaan limbah terintegrasi dalam siklus berkelanjutan.
Ketika sawah produktif mulai eksis, kandang sapi komunal dirintis dan terus tumbuh, lalu hilirisasi produk menjadi muaranya. Usaha penggilingan padi milik desa, berikut budidaya yang ada dapat tersaji ke pasar dengan baik, setelah tentu saja, memenuhi kebutuhan warga Desa Pundungan.
Desa Pundungan nantinya boleh berbangga, karena identitas desa tani-nya. Desa yang mampu mengoptimalkan sumber daya tani, dengan turun langsung bertani, berlanjut menjual produk tani secara berkelanjutan, hingga menjadi desa tani sejahtera.
Bentang persawahan di Desa Pundungan bakal menjadi wajah utama. Desa ini akan dikenal luas sebagai desa sawah. Produk-produk tani yang telah dihilirisasi akan menjadi teras utama Desa Pundungan. Dari sanalah perekonomian desa menguat bahkan berimplikasi signifikan pada desa-desa sekitarnya.
Saya berencana membangun ‘tol sawah’. Jalur-jalur akses yang memudahkan para petani menuju lahan, sekaligus difungsikan sebagai jogging track. Sawah bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga ekspresi komunal penuh rasa bangga.
Jadi, filosofi kepemimpinan Desa Pundungan sangatlah sederhana. Ketika setiap elemen desa dikerahkan untuk mengelola sumber daya yang ada dengan optimal, kesejahteraan desa bukanlah hal mustahil. Sumber daya desa yang saya maksud, sawah.
Siapa yang sudi turun ke sawah (nyawah), ia akan tercukupi pangannya (mamah). Siapa yang telaten bertani, ia akan sejahtera. Saya menyebutnya, nyawah mamah.
