Nguri-Uri Boyolali dengan Green Leadership
/ Opini
Kabupaten Boyolali diganjar penghargaan Nirwasita Tantra pada 2018, 2019, dan 2023.
Nyuwardi
Anggota KAHMI Boyolali
Komisioner KPU Boyolali
Persoalan krisis lingkungan di Indonesia mulai santer diperbincangkan. Berbagai media tidak henti menyoroti kondisi lingkungan dan perubahan iklim. Deforestasi hutan, pertambangan, banjir, tanah longsor, pencemaran udara merupakan dampak serius yang memengaruhi kehidupan manusia. Meningkatnya frekuensi bencana ekologis akhir-akhir ini menjadi alarm untuk kita bersama agar lebih memerhatikan lingkungan hidup.
Pada dasarnya, lingkungan merupakan fondasi utama kehidupan manusia. Seluruh aktivitas manusia, mulai dari memenuhi kebutuhan dasar, menjalankan aktivitas sosial, hingga pembangunan ekonomi, bergantung pada kondisi lingkungan yang sehat dan lestari.
Kekhawatiran rakyat Indonesia terhadap krisis ekologis mulai terlihat. Sebab, banyak kalangan mulai menyadari dampak yang dialami, nyaris tidak ada yang mau menjadi korban. Berkaca pada peristiwa di penghujung November 2025 lalu, sebuah peristiwa yang meninggalkan jejak kehacuran luar biasa di bumi Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.
Banjir bandang dan tanah longsor diakibatkan oleh curah hujan yang tinggi—diprediksi dampak dari Siklon Senyar. Sebuah fenomena iklim yang langka terjadi menyebabkan hujan terus-menerus, sehingga air meluap dalam jumlah yang besar lantas menghanyutkan apa pun di daratan, pun manusia yang menjadi korban.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejak awal tahun hingga November 2025, ada 2.726 kejadian bencana hidrometeorologi, dan banjir bandang hingga akhir November tersebut menelan lebih dari 400 korban jiwa di tiga provinsi terdampak (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat).
Dari bencana tersebut, seluruh perhatian tertuju pada tiga kawasan terdampak dan mencari penyebab terjadinya fenomena alam yang langka tersebut. Pegiat lingkungan meyakini penyebab bencana tersebut bersumber dari deforestasi hutan yang dibuktikan oleh hamparan kayu gelondongan hanyut terseret bersama banjir dan terjebak di sungai, danau, bermuara di pantai, hingga nahasnya ke pemukiman warga.
Ditambah lagi perubahan luas hutan yang kian menyusut sejak 1990 hingga 2024 menjadi 690.777 lahan sawit, ada pula kawasan tambang dengan luas yang mencapai 2.160 hektar, ditambah lagi kawasan perkotaan mencapai 9.666 hektar, dan sisa lainnya untuk kawasan pertanian, hutan bakau, dan karamba (Ramadhan, F., Krisna, A., & Rosalina, n.d.). Penyusutan hutan diduga menjadi pemicu munculnya bencana alam tersebut.
Jika menilik data dari Badan Penanggulangan Nasional Bencana (BNPB), dalam rentang tahun 2008-2025 menunjukkan adanya peningkatan pola kejadian banjir dan tanah longsor selama 5 tahun terakhir, seperti pada tahun 2020 hingga 2025 kejadian banjir meningkat mejadi 5 kali lipat, yakni 4.779, dari sebelumnya dalam rentang tahun 2014-2019 sebanyak 882 peristiwa. Sebuah peristiwa bencana yang menuntut lebih dari sekadar respons mitigasi dan perhatian dari pemangku kebijakan atau pemimpin daerah.
Pembangunan Berkelanjutan dengan Green Leadership
Green leadership atau kepemimpinan hijau bukan lagi istilah baru dalam diskursus pembangunan berkelanjutan. Model kepemimpinan ini semakin dipandang sebagai pendekatan strategis dalam merespons tantangan perubahan iklim sekaligus mendorong pembangunan daerah yang berwawasan lingkungan. Green leadership menempatkan kepedulian ekologis sebagai landasan pengambilan kebijakan, perencanaan, dan praktik tata kelola pemerintahan.
Menilik pada pandangan Chen & Chang (Chen, YS., Chang, 2013), bahwa green transformational leadership merupakan gaya kepemimpinan yang mengintegrasikan visi lingkungan dalam proses kepemimpinan melalui pemberian motivasi dan inspirasi kepada anggota organisasi untuk mencapai tujuan lingkungan bahkan melampaui standar kinerja kreatif hijau yang telah ditetapkan.
Temuan penelitian mereka mengonfirmasi bahwa green leadership berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan kreativitas serta inovasi dalam pengembangan produk hijau, yang pada akhirnya memperkuat daya saing organisasi sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Kepemimpinan hijau dipahami sebagai kemampuan memimpin yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian tujuan pembangunan, tetapi juga secara sadar mengintegrasikan upaya perlindungan lingkungan dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Kemampuan tersebut menjadi sangat urgen karena bertumpu pada pola pikir keberlanjutan (sustainability mindset) yang mempertimbangkan secara serius dampak aktivitas pembangunan terhadap kelestarian ekosistem.
Dalam konteks pembangunan infrastruktur, orientasi tersebut mendorong perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang menitikberatkan pada analisis dampak lingkungan serta pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab, sehingga pembangunan tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.
Pada tahun 2023, Kabupaten Boyolali mendapatkan penghargaan green leadership dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Penghargaan bernama Nirwasita Tantra ini langsung diberikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, di Auditorium Dr. Ir. Soejarwo Gedung Manggala Wanabakti.
Sebenarnya, telah tiga kali penghargaan Nirwasita Tantra diraih Kabupaten Boyolali. Sebelumnya, pada tahun 2018 dan 2019, penghargaan serupa diterima Kota Susu. Hal itu menunjukkan konsistensi komitmen dalam memitigasi bencana serta mengelola lingkungan hidup.
Pemerintah Kabupaten Boyolali dinilai berhasil dalam mensinergikan kebijakan pembangunan yang berorientasi pada penyelesaian persoalan lingkungan hidup, sehingga risiko terjadinya bencana dapat diminimalkan. Penghargaan sekaligus menjadi indikator kinerja pemerintah daerah dalam mengelola lingkungan hidup secara sistematis dan berkelanjutan.
Penilaian Nirwasita Tantra di Kabupaten Boyolali menitikberatkan isu-isu lingkungan hidup prioritas, meliputi pengelolaan persampahan, pengendalian alih fungsi lahan, serta peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya air.
Komitmen dalam memitigasi bencana dengan berfokus pada lingkungan hidup merupakan langkah yang tepat. Pengelolaan sampah, pengendalian alih fungsi lahan, penguatan kualitas dan kuantitas air bersih mengindikasikan praktik green leadership yang berhasil, sebab praktik kepemimpinan hijau yang terinternalisasi dalam tata kelola pemerintahan daerah tercermin melalui perencanaan, implementasi, dan dampak positif terhadap pengelolaan lingkungan hidup.
Penghargaan yang diraih oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Boyolali selaras dengan usaha-usahanya dalam mencapai pembangunan berkelanjutan dengan berorientasi pada langkah mitigasi dengan melakukan upaya preventif meminimalisasi masalah lingkungan. Inovasi tidak lahir begitu saja melainkan hasil dari upaya dan komitmen bersama.
Jadi, telah selayaknya setiap kepemimpinan yang lahir dapat nguri-uri Boyolali dengan green leadership demi pembangunan berkelanjutan.
Daftar Bacaan
Chen, YS., Chang, C. 2013. ‘The Determinants of Green Product Development Performance: Green Dynamic Capabilities, Green Transformational Leadership, and Green Creativity’. J Bus Ethics, 116, 107–119. https://doi.org/https://doi.org/10.1007/s10551-012-1452-x
Ramadhan, F., Krisna, A., & Rosalina, M. P. (n.d.). ‘Hutan Sumatera Lenyap’. Kompas.id. Retrieved January 1, 2026, from https://www.kompas.id/artikel/hutan-sumatera-lenya
Editor: Herlina
