Menggugat Ilusi Kuantum
/ Opini
Keterhubungan partikel subatomik yang ditemukan sains modern apakah membuktikan bahwa alam adalah Tuhan?
Ichwan A. Basri
Pakar Ekonomi Islam
Peradaban modern selama berabad-abad dibangun di atas fondasi yang angkuh, yakni paradigma Cartesian-Newtonian. Sebuah pandangan dunia yang melihat alam semesta tak ubahnya mesin raksasa yang mati, objektif, dan mekanis.
Namun, memasuki abad ke-20, keangkuhan itu terbantahkan justru dari dalam rahim sains itu sendiri. Revolusi fisika kuantum yang dibidani oleh para raksasa seperti Erwin Schrödinger dan Werner Heisenberg menjungkirbalikkan segalanya.
Melalui Persamaan Gelombang Schrödinger, dunia materi yang padat mendadak mencair menjadi sekadar gelombang probabilitas. Realitas subatomik terbukti tidak mandiri, tetapi membutuhkan kehadiran ‘pengamat’ (kesadaran) untuk menjadi realitas yang pasti.
Di Indonesia, gelombang dekonstruksi sains Barat ditangkap dengan sangat cerdas oleh Hidayat Nataatmadja melalui karya monumentalnya, Karsa (1982), untuk menguliti kekosongan spiritual modernitas.
Namun, ada sebuah jebakan eksistensial yang luput dari perhatian banyak orang. Apabila dunia materi hanyalah ilusi semu yang serba-tidak pasti, di manakah manusia harus menaruh jangkar keyakinannya?
Jika kita menelan bulat-bulat pisau analisis kuantum dan mengadopsi cara pandang mistisisme spekulatif, manusia akan dibawa menuju tepi jurang nihilisme dan relativisme ekstrem. Eksperimen pikiran ‘Kucing Schrödinger’ di mana seekor kucing bisa berada dalam kondisi hidup dan mati sekaligus sebelum diamati, apabila dibawa ke ranah filsafat hidup, akan melahirkan ketidakpastian yang akut.
Albert Einstein sendiri pernah menyindir kegilaan spekulatif ini dengan bertanya, “Apakah Anda benar-benar percaya bulan hanya ada ketika Anda melihatnya?”
Ketika realitas dianggap murni subjektif dan tergantung pada persepsi masing-masing pengamat maka kebenaran objektif lenyap. Moralitas menjadi goyang, keadilan menjadi relatif, dan manusia akan mengalami disorientasi eksistensial. Kita seperti dipaksa membangun rumah di atas air yang bergelombang. Semuanya bergoyang, cair, dan tak punya kepastian.
Rambu Teologis
Kerapuhan filosofis semakin nyata ketika masuk ke ranah transcendent unity of religions (kesatuan transenden agama-agama) yang berasumsi bahwa pada tataran batiniah (esoteris), semua agama yang autentik sejatinya menyembah Dzat Ilahi yang sama, sementara perbedaan syariat hanyalah kulit luar (eksoteris).
Di sinilah kewaspadaan akidah harus ditegakkan secara mutlak. Doktrin perenialisme sejatinya adalah doktrin Wahdatul Wujud (kesatuan eksistensi) dan pluralisme radikal yang dibungkus dengan baju lahiriah Islam. Pandangan itu sangat berbahaya, karena mencoba mencairkan batas teologis yang tegas antara tauhid yang murni dan kesyirikan.
Betapa pun tingginya jenjang pengalaman spiritual atau intuisi intelektual (intellectual intuition) yang diklaim oleh manusia, tidak akan pernah bisa mematahkan ketetapan mutlak bahwa hanya Islam agama yang diridhai Allah SWT, sebagaimana firman-Nya
"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam." (QS. Ali 'Imran: 19)
"Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Ali 'Imran: 85)
Menyamakan validitas teologis jalan tauhid dengan jalan di luar Islam setelah diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah sebuah penyimpangan akidah yang fatal. Pengalaman mistis lintas agama yang mencairkan finalnya syariat Islam bukanlah sebuah ma'rifatullah, namun delusi filosofis yang menyesatkan.
Demi eksplorasi ilmiah atas keterhubungan semesta ini tidak tergelincir ke dalam paham panteisme atau ‘Tuhan melebur dengan alam’, kita wajib menegakkan prinsip Al-Bainunah (Bainunatul-Lah min Khalqihi). Konsep teologis yang pertama kali dicetuskan oleh ulama Salaf abad ke-2 Hijriah, Abdullah bin Al-Mubarak, ini menegaskan secara mutlak bahwa Dzat Allah (Khaliq) berada di atas Arsy-Nya dan terpisah secara total dari zat ciptaan (makhluk).
Prinsip ini kemudian diadopsi dan dipertajam secara brilian oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di berbagai kitabnya, seperti Majmu' Al-Fatawa (Jilid 2 & 5) serta Dar'u Ta'arudh Al-'Aql wan-Naql. Ibnu Taimiyah menggunakan dalil akal dan wahyu untuk membantah kaum panteis, dengan menegaskan bahwa Allah tidak menyatu, tidak bertumpuk, dan tidak melebur ke dalam dimensi alam semesta.
Keterhubungan partikel subatomik yang ditemukan sains modern sama sekali tidak membuktikan alam adalah Tuhan. Sebaliknya, ketidakberdayaan materi subatomik untuk berdiri sendiri merupakan bukti konkret dari sifat Al-Faqr (kefakiran makhluk) yang membutuhkan topangan sifat Al-Qayyum (Allah Yang Maha Berdiri Sendiri dan Menopang Makhluk). Alam semesta eksis karena terus-menerus diberi wujud oleh Allah, bukan karena alam semesta adalah bagian dari Dzat Allah.
Meluruskan Ilusi di Lapisan Alam Syahadah
Dengan memegangi Al-Bainunah, kita dapat melihat batasan sains secara proporsional. Manusia harus mampu membedakan antara ‘kemampuan mengetahui’ dan ‘habitat hidup’. Melalui teknologi, seperti mikroskop elektron atau akselerator partikel, manusia memang diberi kemampuan untuk mengintip ke dalam dinamika subatomik yang aneh. Namun, mengetahui rahasia di sana tidak mengubah fakta bahwa habitat hidup manusia berada di alam makro.
Dalam epistemologi Islam, betapa pun mikronya suatu materi serta betapa pun anehnya perilaku sebuah elektron, tetaplah berada mutlak di dalam alam syahadah. Lapisan subatomik bukanlah alam gaib.
Alam syahadah adalah wilayah fisik-material yang diciptakan Allah dengan hukum alam yang kokoh, objektif, dan konsisten (sunnatullah). Meja kayu yang kita sentuh mungkin secara kuantum 99 persen ruang kosong yang diisi getaran energi. Namun, pada habitat manusia, meja itu tetap padat, nyata, dan berfungsi sebagai meja. Menabrakkan diri ke tembok makro akan menghasilkan rasa sakit yang nyata, bukan ilusi.
Hidayat Nataatmadja menggunakan Capra, Schrödinger, atau yang lain dalam buku Karsa sebenarnya hanya sebagai ‘palu pemukul’ untuk menghancurkan berhala materialisme Barat sekuler. Namun, sebagai pembaca yang kritis, kita tidak diperbolehkan larut dalam kegoyangan spekulatif kuantum Barat maupun relativisme perenial.
Pijakan iman yang mantap tidak akan pernah bisa ditemukan di dalam laboratorium subatomik yang selalu berubah, atau pada penyatuan mistis yang semu. Sains bertugas mendeskripsikan lapisan-lapisan alam syahadah, tetapi bukanlah sumber kebenaran mutlak.
Jangkar keyakinan manusia yang membuat jiwa tidak goyang ditelan gelombang zaman adalah Wahyu Allah (Al-Quran). Wahyu memberikan kepastian hukum moral, kepastian tujuan hidup, dan kepastian eksistensial yang tidak berubah oleh amandemen rumus fisika.
Fisika kuantum membawa kita untuk melihat keagungan-Nya yang paling halus di alam syahadah, tetapi jangkarkanlah hati kita pada Wahyu-Nya agar hidup kita tetap tegak berdiri, memijak bumi nyata habitat kita untuk beramal soleh, dan tidak pernah goyang.
Wallahu a’lam bish-showab
