Mencatat Diskusi Perdana Sala Library tentang Asketisme Wong Solo :

Mencatat Diskusi Perdana Sala Library tentang Asketisme Wong Solo

Sala Library merefleksikan simbol-simbol konsumsi yang tak semuanya perlu.


Taufik Nandito
Founder Sala Library

 

Kali perdana, Sala Library menggelar Diskusi Terbuka.  Tepat pada Selasa (16/6/2026) malam, diskusi bertajuk ‘Asketisme Wong Solo’ tersebut diumbar di GOR Blulukan, Colomadu. Sederhana, khidmat, dan penuh makna. Sebuah refleksi tentang ruang eksistensi mutakhir permanusiaan era konsumtif.

Mengapa asketisme yang diketengahkan? Sebab, kapitalisme pada hari ini dapat menempatkan situasi yang berujung pada kekacauan dan krisis. Ketika ketimpangan dan segregasi kelas sosial dalam kapitalisme kian menajam, ketegangan pun muncul. Ketegangan akan bertambah buruk saat mekanisme pasar yang diregulasi oleh negara tak mampu lagi menjalankan distribusi kekayaan secara adil dan merata.

Dalam situasi ini, pasar yang semestinya menjadi alat pertukaran malah menjadi sebuah kompetisi yang tidak seimbang. Lantaran kondisi demikian, muncul ketidakadilan yang tidak hanya bersifat ekonomi tetapi juga dimensi sosial dan kultural. Saat kesenjangan terus melebar, potensi konflik sosial pun bisa meningkat di pelbagai lapisan masyarakat. Kejahatan bisa merajarela.

Persoalan lain dalam kapitalisme kini, terkait konsumsi. Belakangan, sering kali taraf hidup seseorang diukur dari tolak ukur gengsi dan konsumsi. Bahkan status sosial dipertaruhkan dalam interaksi sosial. Pembicaraan dan perdebatan terkait simbol-simbol konsumsi bisa memicu perdebatan yang berujung pada konflik sosial. Hal ini bisa dilihat pada pendukung klub sepak bola luar negeri yang saling mengejek dan bertengkar.

Pada titik itulah, sebuah cara hidup diperlukan untuk mempertahankan diri dari gempuran kapitalisme. Salah satu cara hidup ialah paham asketisme. Paham yang menerangkan bahwa seseorang perlu menjauhkan diri dari hasrat duniawi.

Saat menjalani asketisme, seseorang harus berupaya memenuhi dirinya dengan kebutuhan pokok belaka dan tidak terjebak dalam hasrat konsumsi berlebihan. Selain itu, sikap ini ikut menuntut ketabahan dan kedisiplinan baik raga maupun batin agar tidak mudah terbujuk dalam tekanan sosial atau tuntutan simbolik di lingkungan sekitar.

Penulis esai di pelbagai media massa, Kabut, selaku pembicara mengatakan bahwa saat ini seseorang akan menemukan kesulitan dan bisa salah tingkah, jika harus membicarakan simbol-simbol konsumsi. Fenomena tersebut bisa ditemukan dalam rumah tangga, terutama dalam masyarakat rural perdesaan.

Lebih lanjut, Kabut beranggapan bahwa asketisme adalah praktik hidup yang sulit. Tak semua orang bisa menjalaninya. Sebab, asketisme harus mengandaikan seseorang bisa terbebas dari normal sosial dan kuat menghadapi godaan-godaan konsumsi. Kenyataannya, kini segala hal terkait hajat hidup masyarakat kini lekat dengan persaingan simbol-simbol konsumsi.

Masyarakat desa menurutnya lebih sukar menjalani laku asketisme. Soalnya, di sana mengandalkan interaksi sosial. Percakapan yang terjadi biasanya akan menjurus pada gengsi dan status sosial. Bila pembicaraan sudah mengarah ke bahasan ini, simbol-simbol konsumsi akan masuk. Maka dari itu simboi-simbol itu bersifat simbolik atau tanpa sadar telah masuk dalam preferensi konsumsi.

Laku Asketisme Masyarakat Kota

Akan lebih mudah, menurut Kabut, menjalani laku asketisme dalam kehidupan perkotaan. Masyarakat Solo, misalnya, sekarang mulai cenderung individualis lantaran sifat urbannya. Ketika seseorang bisa memenuhi kebutuhannya seorang diri, ia berpotensi menjalani laku hidup asketisme.

Kabut berpandangan, asketisme dalam konteks modern dapat dipahami sebagai bentuk resistensi halus terhadap budaya konsumtif yang terus diproduksi oleh kapitalisme. Resistensi ini tidak selalu berbentuk penolakan total terhadap modernitas. Justru memunculkan kemampuan untuk hidup secara sadar, selektif, dan tidak larut dalam keinginan yang dikonstruksi oleh industri, media, dan budaya populer.

Kabut menambahkan, seorang individualis di perkotaan bisa menentukan untuk hidup sederhana, mengurangi konsumsi, atau tidak mengikuti tren tanpa gangguan godaan dari masyarakat. Kekaburan identitas di masyarakat perkotaan bisa memberi ruang bagi individu untuk membangun batas privat yang lebih tegas antara dirinya dan ekspektasi publik.

Kehidupan sosial di perdesaan yang lebih rapat, sambungnya, membuat setiap individu berada dalam pengawasan sosial yang lebih dekat. Apa yang dimiliki, bagaimana seseorang hidup, hingga keputusan konsumsi sering kali menjadi bahan pembicaraan yang membentuk tekanan kolektif secara tidak langsung.

Dalam situasi seperti itu, asketisme menjadi lebih sulit. Sebab, keputusan untuk hidup sederhana tidak hanya bersifat personal, tetapi juga harus berhadapan dengan norma sosial yang hidup di tengah komunitas. Oleh karenanya, meskipun asketisme secara konsep tampak sederhana, praktiknya sangat ditentukan oleh struktur sosial tempat seseorang hidup dan berinteraksi sehari-hari.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik