Memoar Sirosis Budi Gunawan Sutomo :

Memoar Sirosis Budi Gunawan Sutomo

Penulis menggambarkan pandangannya tentang penderitaan fisik melalui kacamata yang sangat reflektif.


Bagi kalangan gerakan mahasiswa Kota Solo dan sekitaranya pasca-1998, sosok Budi Gunawan Sutomo, atau yang akrab disapa dengan Bugusu, begitu familier. Ia alumnus Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) angkatan 1998, kader gemblengan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, aktivis mahasiswa, hingga Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Lewat buku memoar perdananya bertajuk Selesai: Memoar Sirosis Mantan Aktivis, Bugusu menanggalkan seluruh atribut profesional dan intelektualnya. Ia melangkah keluar dari balik meja dan melepaskan jubah keberanian oratorisnya untuk menyajikan sebuah kesaksian yang sangat jujur.

Buku ini tidak mengisahkan kejayaan masa lalu atau romantisisme perjuangan jalanan, tetapi sebuah catatan perjalanan batin seorang mantan aktivis yang dipaksa menundukkan kepala di hadapan vonis medis bernama ‘sirosis hati stadium F4’.

Untuk memahami kedalaman narasi buku, mari menarik garis waktu mundur ke akhir dekade 1990-an. Kota Solo kala itu menjadi salah satu kawah candradimuka gerakan mahasiswa di Indonesia. Di tengah arus Reformasi 1998 yang bergelora, Budi Gunawan Sutomo menempa diri di lingkungan FAI UMS.

Bukan mahasiswa yang hanya melintas di ruang kuliah, Bugusu adalah produk dari tradisi intelektual-spiritual Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS. Sebuah institusi kaderisasi yang dikenal melahirkan pemikir keislaman militan, bernalar kritis, dan berakar pada nilai-nilai persyarikatan. Gemblengan Shabran membentuk karakter Budi sebagai sosok yang haus akan literasi dan dialektika.

Dinamika itu makin diperkaya oleh keterlibatannya dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di ruang-ruang diskusi HMI, perdebatan pemikiran dari ‘kiri’ hingga ‘kanan’, serta aksi demonstrasi jalanan, Bugusu mengasah ketajaman analisis sosialnya. Pada era inilah idealisme dibakar, gagasan besar ditenun, dan solidaritas lintas aktivis dipupuk.

Namun, sebagaimana yang diakui Bugusu secara jujur dalam naskah memoarnya, masa-masa pencarian identitas dan atmosfer pergerakan masa itu tidak selalu berisi hal-hal yang ideal. Di balik narasi heroisme pergerakan, ada sisi gelap kecerobohan masa muda, salah satunya adalah paparan risiko gaya hidup dan penggunaan jarum suntik di masa lalu, yang kemudian hari menjadi titik balik dramatis dalam hidupnya.


Jejak Digital dan Literasi

Bugusu begitu dekat dengan lanskap perbukuan dan media. Dari sana, ia mengasah ketajaman bahasa dan struktur logika penulisan dengan memoles ribuan naskah tulisan orang lain agar layak dikonsumsi publik. Pengalaman sebagai editor membentuk gaya bahasanya yang khas, yakni lugas dan terstruktur, namun kaya akan muatan teologis dan filosofis.

Ketika era media sosial dan platform blogging berkembang, Bugusu merambah dunia digital melalui akun Kompasiana dengan nama pengguna ‘Bugusu’. Pada platform tersebut, ia aktif menumpahkan kegelisahan intelektualnya. Artikel-artikel opininya berkisar pengamatan atas perkembangan pendidikan, autokritik terhadap gerakan Islam kontemporer, hingga analisis mendalam mengenai bagaimana algoritma digital membentuk kesadaran masyarakat modern.

Rekam jejak digital menunjukkan bahwa Bugusu adalah sosok yang konsisten hidup dalam dan bersama kata-kata. Oleh karena itu, ketika ia mendiagnosis penyakitnya melalui tulisan dalam buku memoar, gaya bertuturnya tetap menunjukkan kelasnya sebagai seorang editor dan esais senior yang jernih, objektif, dan tanpa artikulasi palsu.

 

Anatomis Perjuangan Medis

Dalam buku memoarnya, Bugusu tidak menulis dengan nada cengeng atau meratap. Sebagai seorang Sarjana Teologi Islam, ia memandang penderitaan fisik melalui kacamata yang sangat reflektif.

Bagian terkuat dari memoar ini adalah ketika Budi menceritakan momentum konfrontasi antara dirinya dan kenyataan biologis. Vonis sirosis hati stadium F4, yakni tingkat kerusakan jaringan hati yang sudah amat lanjut, bukan semata istilah medis bagi Bugusu, tetapi ‘tagihan biologis’ yang datang menagih tepat waktu, persis seperempat abad setelah masa-masa kecerobohan remaja itu berlalu.

Berada di atas ranjang rumah sakit, di antara deru mesin penopang hidup, aroma antiseptik yang menyengat, dan selang-selang infus yang mengikat gerakan tubuhnya, Bugusu dihadapkan pada sebuah kesadaran eksistensial.

Menurutnya, tubuh manusia, sekuat apa pun digembleng dalam tempaan organisasi serta sekeras apa pun dibakar oleh idealisme jalanan, tetaplah entitas biologis yang tunduk pada hukum alam dan sunatullah yang tidak bisa ditawar.

Bugusu mendokumentasikan ikhtiar medisnya dengan sangat detail. Baginya, perjuangan melawan penyakit kronis bukan hanya tentang meminum obat atau menempuh terapi medis modern, namun tentang bagaimana jiwa seorang aktivis berhadapan dengan keterbatasan fisiknya sendiri.

Ada benturan ego yang dahsyat di sana. Seseorang yang terbiasa bertarung di ruang publik, kini harus pasrah dilayani di atas ranjang perasingan.

 

Autokritik Generasi

Salah satu pesan paling krusial dalam SELESAI yang dapat dijadikan bacaan wajib bagi aktivis muda, mahasiswa UMS, kader HMI, maupun generasi milenial adalah autokritik mendalam terhadap budaya pergerakan.

Selama ini, narasi pergerakan mahasiswa tidak jarang mengagungkan heroisme luar, berupa pengorbanan waktu, mengabaikan pola makan, tidur tidak teratur, hingga pengabaian atas kesehatan fisik dan mental demi sebuah tujuan politik atau keorganisasian. Bugusu melalui memoarnya menabuh genderang peringatan telak.

Pertama, tentang kejujuran eksistensial. Heroisme di panggung publik tidak ada artinya jika seseorang abai dan menghancurkan bait suci pribadinya, yaitu tubuh dan batinnya sendiri.

Kedua, keterlanjuran yang harus dihadapi. Kecerobohan masa lalu, baik karena gaya hidup, ketidaktahuan, maupun pergaulan, memiliki konsekuensi yang tidak bisa dihapus hanya dengan retorika moral.

Ketiga, rekonsiliasi sunyi. Pada akhirnya, ketika panggung publik meredup dan sorak-sorai organisasi menghilang, yang tersisa di samping ranjang rumah sakit bukanlah massa aksi atau bendera organisasi, tetapi keluarga dan Tuhan.

Bugusu menceritakan proses penyembuhan yang justru terjadi ketika ia menanggalkan topeng kepalsuan seorang ‘aktivis senior’ dan mulai merangkul kembali kehangatan keluarga. Perjalanan menyembuhkan luka biologis ini bertransformasi menjadi perjalanan menyembuhkan luka spiritual.

Judul buku ini, SELESAI, mungkin terasa dingin atau bahkan terkesan seperti sebuah ketakutan akan garis akhir. Namun, setelah membaca seluruh naskahnya, kita akan memahami bahwa kata ‘selesai’ bukanlah sinyal kekalahan atau keputusasaan.

Kata ‘selesai’ sebentuk penerimaan spiritual (ridha) dan keikhlasan kesatria. Bagi Budi Gunawan Sutomo, menuntaskan perjalanan bukan berarti menyerah pada keadaan, namun keberanian untuk berdamai dengan masa lalu, menuntaskan semua urusan batin dengan sesama manusia, serta menyambut takdir Tuhan dengan kedamaian dan kepala yang tetap tegak.

Karya istimewa yang sangat personal dari Bugusu ini bukan hanya jejak digital terakhir dari pemikirannya, tetapi sebuah warisan literasi yang sangat berharga bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan keterbatasan tubuh, maupun bagi mereka yang sedang belajar memahami arti hakiki dari sebuah kehidupan.

SELESAI: Memoar Sirosis Mantan Aktivis tak lain sebuah pengingat bahwa hidup tidak diukur dari seberapa keras seseorang berteriak di jalanan, melainkan dari seberapa jujur dan damai seseorang dalam menuntaskan babak akhir perjalanannya di hadapan Sang Pencipta.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik