Membuka Jalan Mobilitas Sosial Generasi Muda
/ Bisnis
Dengan manajemen yang tepat, pekerja migran Indonesia akan benar-benar bersumbangsih pada pendapatan negara bahkan mengurangi tingkat kemiskinan.
Umar Jahidin
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah
Alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran
Kamis siang (12/3/2026), perusahaan yang saya dirikan, PT Alvin Duta Mandiri kembali merasakan keberkahan Ramadhan melalui pertemuan Zoom bersama jejaring Solo dan sekitarnya. Dalam forum ini, para peserta berdialog secara produktif mengenai peluang belajar bahasa Jepang sebagai langkah awal mempersiapkan diri bekerja ke Negeri Sakura.
Dipimpin Sutarmo, seorang alumnus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang juga dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, diskusi pun berlangsung hangat, penuh semangat, dan melahirkan optimisme baru untuk membuka peluang kerja global bagi generasi muda Indonesia.
PT Alvin Duta Mandiri sendiri telah menjalin kerja sama dalam wujud Satuan Pendidikan Kerja Sama (SPK) dengan beberapa perusahaan penempatan yang kredibel dan berpengalaman dalam penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke berbagai negara, khususnya Jepang. Dengan jaringan tersebut, peluang bagi generasi muda untuk mengakses pasar kerja internasional semakin terbuka.
Pertemuan juga dihadiri unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Solo serta beberapa majelis, di antaranya Majelis Ekonomi dan Majelis Wakaf. Turut pula perwakilan dari Yogyakarta, Wonogiri, Pacitan, dan Gunung Kidul.
Hal yang paling menggembirakan, para peserta forum menyatakan kesiapannya untuk bergerak bersama memanfaatkan jaringan yang ada. Gagasannya sederhana, namun berdampak besar. Jika memungkinkan, setiap kabupaten dan kota dapat merekrut minimal satu kelas lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan dipersiapkan menjadi calon Pekerja Migran Indonesia ke Jepang.
Gerakan ini sejalan dengan program yang sedang berjalan. Pertama, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Jelambar, Jakarta Barat, membuka dua kelas yang diikuti 70 siswa dan sudah berjalan selama tiga bulan pelatihan, sejak November 2025.
Kedua, LPK Tigaraksa membuka dua kelas yang diikuti 65 siswa dan mulai belajar setelah Idul Fitri, 25 Maret 2026. Ketiga, LPK Solo Raya, termasuk Gunung Kidul, Pacitan, dan Wonogiri membuka 4 kelas yang diikuti 140 siswa dan ditargetkan mulai berjalan pada Juni 2026.
Bagi kami, program ini bukan sekadar pelatihan bahasa, tetapi ikhtiar membangun jalan mobilitas sosial bagi generasi muda, sekaligus memperkuat kontribusi Pekerja Migran Indonesia dalam ekonomi global. Sebuah langkah kecil bagian dari gerakan besar untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang terampil, berdaya saing, dan bermartabat di tingkat internasional.
Monumen Perjuangan
Dibidik dari remitansi, Indonesia masih tertinggal dengan negara serumpun, Filipina. Remitansi adalah layanan pengiriman uang, umumnya dalam valuta asing, melalui perantara perbankan atau agen transfer uang. Biasanya remitansi digunakan para pekerja migran untuk mengirim sejumlah uang ke Tanah Air.
Jumlah remitansi Filipina setiap tahunnya hampir mencapai US$ 40 miliar, sedangkan Indonesia masih di kisaran US$ 15 miliar atau Rp288 triliun. Dengan begitu, pengaruhnya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masing-masing negara pun berbeda. Remitansi Filipina menopang 7-8 persen PDB, sedang Indonesia baru di angka 0,8 hingga 1 persen terhadap PDB.
Mengapa demikian? Karena, pekerja migran kita masih kalah skill dibanding Filipina. Rata-rata pekerja migran Filipina berperan sebagai insinyur dan teknisi, pekerja hospitality, cargiver, dan sedikit domestic workers. Bahkan Filipina dikenal akan pengiriman global nurse dengan penguasaan bahasa Inggris yang baik serta global seafarer dengan kemampuan teknis tingkat tinggi.
Sementara rata-rata pekerja migran Indonesia bekerja di sektor low skilled atau semi skilled, untuk lowongan cargiver, plantation, manufaktur, konstruksi, dan domestic workers.
Meski demikian, remitansi PMI menjadi salah satu sumber devisa penting sekaligus penggerak ekonomi keluarga di kampung asal. Bank Indonesia mencatat aliran remitansi dari pekerja migran Nusa Tenggara Barat misalnya, mencapai sekitar US$ 1,2 miliar per tahun. Di sana, remitansi tidak hanya sebagai cadangan keuangan keluarga, tetapi sebagai modal pembangunan rumah, usaha kecil, dan pendidikan anak.
Sebuah bukti nyata kontribusi para PMI yang bekerja jauh dari Tanah Air. Aliran remitansi yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan harapan yang dibangun dari jarak ribuan kilometer melintasi samudra.
Banyak PMI harus meninggalkan keluarga untuk bekerja bertahun-tahun di negara-negara Timur Tengah atau Asia, menghadapi perbedaan budaya, bahasa, dan kondisi kerja yang menantang. Tidak sedikit yang harus menahan rindu, merelakan momentum hangat bersama keluarga, bahkan menghadapi risiko keselamatan dan kesehatan.
Remitansi adalah sebentuk monumen kerja keras dan harapan yang berimplikasi luas pada pembangunan sosial dan ekonomi bahkan berdampak signifikan bagi kebijakan pengurangan kemiskinan. Dengan begitu, akses pendidikan akan meningkat lebih tinggi dan daya beli lebih stabil.
