Salah satu potret aksi demonstrasi HMI tahun 1965. (HMI UII)
Khidmat HMI Sebab Bulan Ramadhan : Salah satu potret aksi demonstrasi HMI tahun 1965. (HMI UII)
Salah satu potret aksi demonstrasi HMI tahun 1965. (HMI UII)

Khidmat HMI Sebab Bulan Ramadhan

Ramadhan 1384 H dan Ramdhan 1385 tahun 1965 menjadi momentum historis eksistensi HMI.


Nyuwardi
Anggota KAHMI Boyolali
Komisioner KPU Kabupaten Boyolali

 

Februari sering kali disebut sebagai ‘Bulan HMI’. Pada bulan tersebut, tepatnya setiap tanggal 5, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memperingati hari kelahirannya. Sepanjang bulan Februari, biasanya digelar berbagai macam kegiatan untuk memeriahkan milad oleh para pengurus HMI dan Korps Alumni HMI (KAHMI) di banyak tempat.

Beruntung, Bulan HMI tahun ini berbarengan dengan masuknya waktu Bulan Suci Ramadhan 1447 H. Bagi kader HMI dan alumninya, keberkahan Milad HMI dapat berlipat kali didapatkan dengan ‘memanen’ banyak kebaikan saat Ramadhan. Sebuah momentum strategis untuk memperkukuh khidmat HMI untuk Indonesia.

Sejak kelahirannya, tahun 1965 menjadi salah satu momentum yang luar biasa strategis bagi HMI. Ketika itu, terjadi kampanye yang sangat masif untuk membubarkan HMI oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan elemen-elemen pendukungnya. HMI dinilai kontra-revolusioner yang berarti tidak Sukarnois, anak didik Masyumi yang dinyatakan terlarang, bahkan dianggap ‘setan perguruan tinggi’.

Pada 1965, bulan Ramadhan berlangsung dua kali, yakni pada awal dan akhir tahun. Dari Ramadhan 1384 H hingga Ramadhan 1385 H inilah lansekap perpolitikan Indonesia berubah, menurutsertakan HMI dalam pusaran sejarah sebagai organisasi kemahasiswaan yang berhasil survive.

Viva Yoga Mauladi dalam karyanya berjudul Bung Karno dan HMI dalam Pergulatan Sejarah terbitan Intrans tahun 2002 menulis bahwa pembubaran HMI merupakan bagian dari rangkaian grand design penguasaan Indonesia oleh PKI. HMI menjadi incaran, setelah PKI sukses membubarkan Partai Masyumi dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), serta memecah belah Pelajar Islam Indonesia (PII).

Lebih lanjut, terang Viva, organisasi sayap PKI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan kawan seideologi berhasil mengeluarkan HMI dari anggota Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Islam (PPMI).  Bukan hanya itu, CGMI terus berupaya agar ada pelarangan kader HMI di Majelis Mahasiswa Indonesia (MMI). Targetnya, HMI tidak dapat menjabat di organisasi intra-kampus, seperti UI, ITB, UGM, IPB, UNPAD, UNHAS, USU, dan lainnya.

Bahkan pada Penutupan Kongres ke-3 CGMI di Istora Senayan, 29 September 1965, yang dihadiri Presiden Soekarno, pekik yel-yel pembubaran HMI terdengar begitu nyaring. Namun tidak seperti yang diharapkan PKI, dalam pidatonya, Bung Karno dengan sangat yakin, tidak membubarkan HMI.  

Sejarah telah tertoreh. Dalam rentang Ramadhan 1384 H menuju Ramadhan 1385 H tahun 1965, pergolakan politik besar terjadi di Indonesia. Para pembenci HMI ditakdirkan keluar dari panggung dengan keadaan yang mengenaskan, sedangkan HMI selamat dan masih tegak berdiri hingga usianya yang ke-79 saat ini.

Banyak nama penting yang dapat disebut untuk mengingat sulitnya HMI keluar dari masa kelam itu. Di antaranya Menteri Agama 1962-1967 yang juga tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Saifuddin Zuhri; Menteri/Panglima Angkatan Darat 1962-1965, Jenderal TNI Ahmad Yani; serta Wakil Perdana Menteri Indonesia 1957-1966, Laksamana (Tit.) Johannes Leimena.

Ramadhan Bulan Revolusi Diri

Tak pelak, momentum Ramadhan 1384 H dan Ramadhan 1385 H yang berlangsung pada tahun 1965 berandil besar ‘melecut’ kader-kader HMI hingga organisasi kemahasiswaan tertua ini akhirnya selamat. Gemblengan Ramadhan berhasil bersumbangsih dalam perubahan mental (taghyir nafsi) dan spiritual kader-kader HMI menuju takwa, hingga berani dan kuat dalam menghadapi berbagai cobaan.

Puasa dapat mengubah kebiasaan buruk menjadi baik, membelenggu hawa nafsu, dan menyucikan jiwa. Ibadah ini menyuburkan empati kader-kader HMI terhadap kaum papa yang lapar. Dengan khusyuk di bulan Ramadhan, ibadah sosial mereka pun meningkat dan gemar berbagi. Puasa juga mendidik pribadi-pribadi untuk dapat menahan diri dari hal yang sia-sia.

Jelas tak mudah untuk mempertahankan biduk organisasi, ketika perekonomian Indonesia tengah terpuruk di satu sisi, serta fitnah dan agresi politik oleh PKI di sisi yang lain. Bayangkan, terjadi hiperinflasi lebih dari 600 persen yang dipicu oleh defisit anggaran besar dan berdampak pada kemiskinan ekstrem yang sebagian besarnya adalah umat Islam.

Semasa tersebut, HMI berada pada titik nadir yang hanya mungkin survive oleh pribadi-pribadi bertakwa. Kader dan pengurus organisasi yang peduli pada keadilan dan kemakmuran bangsa tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam. Organisasi yang berjalan pasti, karena bertumpu pada teladan-teladan islami dan nasionalis.

Jadi, Ramadhan jelas bukan sekadar ritual ibadah, tetapi ruang revolusi diri, sosial, hingga tiba pada capaian bersejarah demi ridha Allah SWT. Seperti diketahui, Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Begitu banyak perubahan besar-besaran tercatat dalam sejarah manusia ditempuh saat bulan suci Ramadhan.

‘Khidmat HMI untuk Indonesia’ sebagai tema Milad HMI ke-79 pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari momentum Ramadhan 1447 H. Dengan ibadah Ramadhan, khidmat itu berbekal spiritual memadai agar terus lestari. Tanpa ibadah Ramadhan, mustahil khidmat HMI dapat terejawantah, apalagi kiprah bersejarah.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik