Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah, alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran, Umar Jahidin, dalam sketsa. (Uje Official dengan Gemini AI)
Kesadaran sebagai Inti Kebaikan : Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah, alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran, Umar Jahidin, dalam sketsa. (Uje Official dengan Gemini AI)
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah, alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran, Umar Jahidin, dalam sketsa. (Uje Official dengan Gemini AI)

Kesadaran sebagai Inti Kebaikan

Barangkali selama ini kita terlalu sering memosisikan moral sebagai beban, bukan sebagai kesadaran.


Umar Jahidin
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah
Alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran

 

Ramadhan 1447 H hampir usai. Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik, selama masa tarbiyah bulan suci ini, mulai dari kegiatan rutin ibadah mahdhah, hingga fenomena-fenomena baru yang inspiratif.

Suatu ketika, saya disuguhi sebuah akun media sosial dengan konsep yang menurut saya, begitu segar dan menarik. Secara substansi, akun tersebut bersemangat menyampaikan nilai-nilai Islam, tidak berbeda dengan para mubalig. Bedanya, substansi dikemas dalam penjelasan populer yang bahkan tidak menampakjelaskan simbol-simbol keislaman secara harafiah.

Sepintas, para pengunjung tidak bakal mengira sedang mengonsumsi ceramah agama. Sebab, lusinan konten yang telah ditayangkan, membahas hal-hal yang relate dalam kehidupan kekinian, seperti sampah, hubungan sosial, hingga selebrasi syukur.

Namun, setelah ditelisik lebih dalam, kita dapat menangkap pesan kuat tentang ketaatan dan keberserahan diri yang luar biasa kepada Sang Pencipta. Masalah tidak semata diselesaikan dalam sudut pandang kemanusiaan, tapi jelas di bawah payung keilahiahan.

Si presenter menelaah isu-isu kedirian manusia dengan begitu dalam, berbekal penampilan menghibur bak musisi rock kenamaan. Ia tak canggung untuk menyampaikan kebenaran Islam, meski tampak berperawakan ‘hampir tak islami’. Ia menekankan implikasi luas ibadah, tidak hanya bagi pelaksana, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

Di tengah maraknya ceramah yang sarat dalil dan retorika, ada satu hal yang sering luput, yakni substansi kebaikan itu sendiri. Kita terlalu sering disibukkan oleh bentuk, berupa kutipan, simbol, dan legitimasi, hingga lupa menyentuh inti dari apa yang disebut sebagai moral dan religiusitas.

Sahabat kita dalam akun media sosial tadi justru mengambil jalan yang berbeda. Ia tidak berbicara dengan ayat; tidak pula dengan janji surga atau ancaman neraka. Namun anehnya, justru tanpa semua itu, pesannya terasa lebih jernih dan mengena. Ia seperti sedang mengajak kita kembali pada sesuatu yang lebih dalam, adalah kesadaran.

Moral Bukan Beban

Di titik ini, kebaikan tidak lagi berdiri sebagai sesuatu yang eksternal atau dipaksakan dari luar melalui aturan atau ancaman. Ia menjadi sesuatu yang lahir dari dalam; dari nurani yang bekerja; dari akal yang merenung; dan dari hati yang jujur pada dirinya sendiri. Kebaikan tidak lagi bergantung pada seberapa banyak kita mengutip, tetapi pada seberapa dalam kita memahami.

Barangkali selama ini kita terlalu sering memosisikan moral sebagai beban, bukan sebagai kesadaran. Padahal, ketika seseorang benar-benar memahami makna kebaikan, ia tidak lagi membutuhkan dorongan eksternal untuk melakukannya. Ia berbuat baik bukan karena takut, bukan karena berharap imbalan, tetapi karena memang itulah yang seharusnya dilakukan.

Di sinilah letak kekuatan pendekatan yang sederhana namun mendasar itu. Ia tidak memaksa, tidak menghakimi, tidak pula meninggikan diri. Ia hanya mengingatkan bahwa dalam diri setiap manusia, sudah ada benih kebaikan yang menunggu untuk disadari.

Dan mungkin, justru di situlah religiusitas menemukan bentuknya yang paling autentik. Bukan pada kerasnya suara; bukan pada banyaknya dalil; tetapi pada kejernihan kesadaran. Sebuah kesadaran yang tenang, tidak gaduh, namun mampu menggerakkan manusia untuk menjadi lebih baik, tanpa harus disuruh.

Ramadhan tinggal sehari lagi dan segera berlalu. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk berjumpa kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Bersamaan dengan itu, mari saling bermaafan lahir dan batin atas segala salah dan khilaf. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga Allah menerima ibadah shaum Ramadhan kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik