Iran, Potret Nasionalisme yang Percaya Diri
/ Opini
Bangsa besar hanya dapat dibangun oleh mereka yang percaya pada kebesarannya sendiri.
Yasser Arafat
Dosen Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UNS
“Seandainya iman itu tergantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh orang-orang dari Persia.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadits tersebut sering dikutip ketika membicarakan bangsa Persia, serta berkaitan erat dengan firman Allah SWT dalam Surah Muhammad ayat 38, “Jika suatu kaum berpaling dari jalan Allah maka Allah akan mengganti mereka dengan kaum lain yang lebih baik dan tidak seperti mereka.”
Ketika itu, para sahabat bertanya tentang siapa kaum pengganti yang dimaksud. Rasulullah SAW kemudian menunjuk Salman Al-Farisi yang berada di samping beliau dan mengucapkan hadits di awal tulisan.
Entah bagaimana tepatnya menafsirkan hadits itu dengan benar. Namun, sejarah terkini seakan memberikan kesaksian yang nyata.
Hari ini banyak yang bertanya-tanya, ketika menyaksikan Iran sebagai manifestasi modern dari peradaban Persia kuno, menghadapi embargo ekonomi, tekanan politik, ancaman militer, dan berbagai bentuk isolasi internasional.
Mengapa bangsa yang terus ditekan itu masih mampu bertahan? Mengapa Iran tetap dapat membangun teknologi, memperkuat industri pertahanan, dan menjaga kedaulatannya, sedangkan banyak negara lain yang hidup dalam situasi jauh lebih nyaman justru terjebak dalam ketergantungan?
Untuk sedikit memberikan gambaran jawaban atas pertanyaan tersebut, setidaknya ada dua hal yang membuat Iran tampil gagah meskipun menghadapi tekanan dari dunia internasional, yakni memori kolektif sebagai bangsa besar dan konsistensi dalam pelaksanaan nilai-nilai konstitusional.
Memori Bangsa Besar
Iran berasal dari peradaban Persia yang sudah berusia ribuan tahun. Sebelum lahir negara-negara modern, Persia telah membangun peradaban yang khas, lengkap dengan arsitektur megah, seni, sastra, serta kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Kesadaran sebagai pewaris peradaban besar itulah yang membentuk psikologi kolektif bangsa Iran.
Di sinilah letak perbedaan penting antara bangsa yang memiliki memori peradaban dengan bangsa yang mengalami amnesia sejarah. Suatu bangsa yang melupakan kebesarannya mungkin mencari identitas dari sumber eksternal, sementara bangsa yang menyadari masa lalunya memperoleh kepercayaan diri dari dalam. Kesadaran sebagai pewaris peradaban Persia telah melahirkan nasionalisme pada Bangsa Iran yang tidak mudah goyah oleh tekanan eksternal.
Bahkan ketika Islam datang ke Persia, bangsa ini tidak menolaknya. Mereka menerima Islam dengan antusias, namun tidak menyerahkan identitas kebudayaannya. Persia mengalami islamisasi, tetapi tidak menerima arabisasi.
Budaya Persia tetap hidup. Tradisi intelektualnya tetap berkembang. Nasionalisme Persia tidak dihancurkan oleh Islam, melainkan menemukan bentuk baru di dalam Islam. Tidak seperti Syam (Suriah) yang ditaklukkan, di-Islam-kan, dan di-arab-kan.
Barangkali di sinilah salah satu rahasia kekuatan Iran. Sebuah nasionalisme yang percaya diri. Nasionalisme yang tumbuh bukan dalam bentuk penolakan terhadap segala sesuatu yang datang dari luar, melainkan dalam kemampuan menyaring, mengadaptasi, dan mengintegrasikan unsur-unsur asing ke dalam identitas nasional mereka sendiri.
Sejarah modern Iran kemudian memperlihatkan bagaimana kesadaran itu bekerja dalam politik. Iran sempat dipimpin oleh rezim Pahlevi yang begitu bergantung kepada Barat. Rezim ini pun menghadapi perlawanan yang tidak hanya bersifat politik, tetapi juga bersifat kultural dan spiritual.
Akumulasi dari berbagai bentuk perlawanan terhadap otoritarianisme politik, dominasi asing, dan sekularisasi negara, pada akhirnya bermuara pada Revolusi Islam Iran tahun 1979.
Revolusi tersebut bukan sekadar pergantian penguasa, tetapi merupakan usaha sebuah bangsa untuk merebut kembali hak menentukan nasibnya sendiri. Karenanya, Revolusi Islam Iran 1979 tidak hanya melahirkan pemerintahan baru, tetapi juga paradigma baru tentang kemandirian nasional.
Konsistensi Konstitusi
Semangat revolusi kemudian dituangkan ke dalam konstitusi. Dalam konstitusi Iran terdapat ketentuan yang melarang segala bentuk dominasi asing atas sumber daya alam, ekonomi, militer, kebudayaan negara, serta aspek-aspek lain dari kehidupan nasional.
Ketentuan tersebut merupakan pernyataan ideologis yang menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya persoalan mengusir penjajah dari wilayah teritorial, tetapi juga membebaskan diri dari ketergantungan ekonomi, politik, dan budaya.
Bagi Iran, ketentuan konstitusi bukan pemanis semata, namun prinsip yang benar-benar diwujudkan dalam kebijakan negara sehari-hari.
Oleh karenanya, embargo yang ditujukan untuk melemahkan Iran justru memberikan dampak sebaliknya. Embargo dan tekanan dari dunia internasional pasti menimbulkan penderitaan dan kesulitan. Iran justru mampu mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dengan modal semangat nasionalisme dan menolak ketergantungan pada bangsa lain.
Mereka belajar memproduksi teknologi yang sebelumnya diimpor. Mereka membangun industri pertahanan sendiri. Mereka mencari jalur perdagangan alternatif. Mereka dipaksa berdiri di atas kaki sendiri karena tidak memiliki pilihan lain. Dalam banyak kasus sejarah, penderitaan memang sering kali menjadi guru yang lebih efektif daripada kenyamanan.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk meniru Iran secara keseluruhan. Setiap bangsa memiliki sejarah dan konteks yang berbeda. Namun, dari Iran, kita dapat mengambil sebuah hikmah tentang pentingnya memori sebagai sebuah bangsa besar dan nasionalisme percaya diri yang terwujud dalam kemandirian nasional.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Iran sesungguhnya adalah pertanyaan tentang diri kita sendiri. Ketika kita bertanya mengapa Iran mampu bertahan, sesungguhnya kita sedang bertanya mengapa Indonesia belum sepenuhnya mandiri?
Dan mungkin jawabannya bukan terletak pada apa yang kurang kita miliki, melainkan pada apa yang mulai kita lupakan, yakni kesadaran bahwa bangsa besar hanya dapat dibangun oleh mereka yang percaya pada kebesarannya sendiri.
