Semarak Heritage in Harmony Tahun Baru Imlek Kota Surakarta. (Polresta Surakarta)
Bila Perayaan Imlek Menggerakkan Ekonomi Nasional : Semarak Heritage in Harmony Tahun Baru Imlek Kota Surakarta. (Polresta Surakarta)
Semarak Heritage in Harmony Tahun Baru Imlek Kota Surakarta. (Polresta Surakarta)

Bila Perayaan Imlek Menggerakkan Ekonomi Nasional

Imlek dapat menggerakkan perekonomian nasional dari tataran podusen skala kecil dan menengah.


Singgih Sugiharto
Pemerhati Ekonomi dan Sosial Desa
Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis 1996

 

Bagi warga Tionghoa, Imlek merupakan hari penting yang rutin dirayakan setiap tahun. Momentum ini sebentuk syukur atas datangnya musim semi yang membawa harapan baru. Istilah ‘imlek’ berasal dari dialek Hokkien, atau disebut Yinli dalam bahasa Mandarin, yang secara harafiah berarti ‘kalender bulan’.

Sejarah perayaan Tahun Baru Imlek berkembang seiring bergantinya dinasti di Tiongkok. Pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), masyarakat terbiasa menggelar ritual pengorbanan demi menghormati dewa dan leluhur setiap pergantian tahun.

Tanggal perayaan Imlek kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Dinasti Han (202 SM-220 M), yakni pada hari pertama bulan pertama kalender lunar. Semasa periode ini, tradisi membakar bambu untuk menciptakan suara keras mulai populer sebagai simbol penolak bala atau pengusir roh jahat.

Sementara di Indonesia, tradisi Imlek telah ada sejak ribuan tahun lalu, meskipun secara pasti kapan dan tahun berapa masuk, belum diketahui secara jelas. Tradisi itu dibawa oleh warga Tionghoa yang bermigrasi ke Nusantara, kemudian berkembang di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Ditilik sejarahnya, perayaan Imlek dari masa ke masa di Indonesia, tidaklah sama. Saat era kepemimpinan Presiden Soekarno, perayaan Imlek diperbolehkan serta diakui sebagai hari besar keagamaan Tionghoa melalui Penetapan Pemerintah Nomor 2/OEM-1946. Ketika itu, warga Tionghoa bebas merayakan Imlek, termasuk pertunjukan barongsai di tempat umum.

Sewaktu rezim berganti, Orde Baru melarang peringatan Imlek secara terbuka melalui Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina yang membatasi perayaan-perayaan pesta agama dan adat istiadat Cina secara mencolok dan hanya boleh dilakukan dalam lingkungan keluarga.

Pada Era kepemimpinan Gus Dur, Inpres 14/1967 dicabut melalui Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000. Bukan hanya itu. Mulai tahun 2003, Imlek ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional.

Bagi warga Tionghoa, Keppres 6/2000 bagaikan ‘angin surga’. Sebab, sekira tiga dekade Imlek dirayakan secara sembunyi-sembunyi. Warga Tionghoa tidak lagi merayakan tradisi nenek moyang mereka dengan perasaan was-was.

Kepahlawanan Gus Dur

Adalah KH Abdurrahman Wahid, atau akrab disapa Gus Dur. Ia seorang pahlawan dan pluralis sejati, karena berani melawan arus utama (mainstream). Cucu dari dua tokoh ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut bersuara tak kalah nyaring dibandingkan para pengharam pluralisme. Terlebih, tidak diragukan bahwa karakter pluralis Gus Dur berlatar belakang pemahaman agama yang benar serta cinta yang tulus pada bangsa Indonesia.

Gus Dur bukan hanya pahlawan pluralisme melainkan ikon perjuangan pluralisme di Indonesia yang dibangun dalam tatanan demokrasi plural. Artinya, sebuah kesadaran dan keterbukaan untuk menerima dan mengakui perbedaan yang ada sembari mengolahnya dalam sikap saling menghormati.

Gus Dur telah memberi sebuah jejak perjuangan politik inklusif di Tanah Air, sehingga pluralisme tidak sebatas wacana, obrolan politis, atau rencana, melainkan aksi dan tindakan nyata. Salah satunya, memberi kebebasan perayaan Imlek bagi warga Tionghoa ketika ia menjabat Presiden Republik Indonesia.

Bagi warga Tionghoa, kembali diperbolehkannya perayaan Imlek, tak lain merupakan sebuah kemenangan besar. Sebab, sekian lama, mereka dibelenggu oleh kekuasaan rezim Orde Baru yang beranggapan bahwa agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina di Indonesia yang berpusat pada negeri leluhurnya dapat menimbulkan pengaruh psikologis, mental, dan moral kurang wajar terhadap warga negara Indonesia.

Anggapan Orde Baru ini jelas-jelas merupakan hambatan terhadap proses asimilasi, serta perlu diatur dan ditempatkan fungsinya pada proporsi yang wajar. Meski menurut keyakinan Penulis, ketakutan itu ‘ilusi’ belaka dan hanya untuk mereduksi kekuatan besar kaum minoritas yang barangkali dapat mengambil alih porsi kekuatan-kekuasaan orde penguasa atau rezim Orde Baru.

Beruntung, ketakutan Order Baru tersebut tidak benar. Pasca-Orde Baru, pada tatanan pemerintahannya tidak ada dikotomi atara pribumi dan non-pribumi atau asing dan non-asing. Pada kenyataannya, istilah-istilah demikian berangsur-angsur tereduksi oleh tatatan toleransi yang tinggi antar-umat beragama.

Perbauran keberagaman umat dalam kegiatan tradisi Imlek sangat kental dalam berbagai kegiatan yang digelar di daerah, menggunakan dan memadukan budaya lokal tanpa meninggalkan tradisi awal. Imlek pun dimaknai sebagai sarana toleransi beragama dalam lingkup berbangsa dan bernegara.

Ekonomi Bergerak

Momentum Imlek tidak hanya persoalan tradisi dan rutinitas, namun dapat menjadi dasar pergerakan ekonomi baru. Baik disadari atau tidak, perayaan Imlek selalu membawa energi besar ke dalam perekonomian.

Seperti air yang mengalir dari hulu ke hilir, ekonomi Imlek tidak hanya menggeliat di pusat-pusat perdagangan besar, tetapi juga meresap hingga ke lapisan ekonomi terkecil. Imlek menyajikan suasana semarak dengan begitu banyak pusat perbelanjaan yang dihiasi ornamen merah dan emas. Toko-toko makanan sibuk memenuhi pesanan kue keranjang, hingga berbagai sektor jasa ikut menikmati berkah peningkatan konsumsi.

Dampak perayaan Imlek yang bermetamorfosis menjadi kekuatan ekonomi dari bawah, yakni tataran produsen skala kecil dan menengah jauh lebih kuat dibandingkan dengan pergerakan ekonomi yang bersumber dari kekuatan besar kemudian turun ke bawah. Fakta inilah yang berpotensi menggerakkan sektor ekonomi nasional.

Jadi, bukan tidak mungkin, Imlek kelak semakin dapat menggerakan ekonomi secara nasional. Pemerintah berkesempatan mengolah potensi ini menjadi kekuatan penting nan strategis.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik