Bangsa Berkarakter Bermula dari Pribadi Takwa
/ Opini
Indonesia Emas tidak akan terwujud bila nihil jati diri dan karakter berbangsa.
Sofyan Anif
Guru Besar Manajemen Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Usai bulan suci Ramadhan, terbitlah bulan Syawal 1447 H. Sebuah kebahagiaan mendalam ditakdirkan Allah SWT dapat menyelenggarakan ibadah Ramadhan tahun ini, dan akhirnya gembira merayakan Idul Fitri.
Berpuasa ramadhan disertai ibadah-ibadah lain serta didasari iman dan niat yang ikhlas, ternyata mampu membangun karakter dan jati diri seorang Muslim. Tepatnya, manifestasi dari ketakwaan.
Ahmad Sarbarsi, seorang ulama besar dan pernah menjadi Rektor Universitas Al-Azhar Kairo pada tahun 1980-an pernah menulis kitab berjudul Membangun Karakter Bangsa. Dalam bukunya tersebut dijelaskan bahwa membangun satu bangsa yang berkarakter harus dimulai dari pembangunan karakter manusianya terlebih dulu.
Betapa penting bermula membangun manusia berkarakter takwa, sebelum bermimpi membangun bangsa yang berkarakter.
Puasa Ramadhan yang dilakukan setiap umat Muslim setiap tahun bertujuan membangun karakter diri dan karakter bangsa sebagai wujud implikasi orang-orang bertakwa, sebagaimana yang menjadi tujuan diwajibkannya berpuasa.
Mimpi besar bangsa kita pada tahun 2045 atau sering disebut era Indonesia Emas atau Golden Age, yaitu menjadi salah satu dari Delapan Negara Terkuat di bidang ekonomi, tentu tidak akan terwujud, ketika masih memiliki persoalan jati diri maupun karakter bangsa.
Sebaliknya, jika mimpi besar ini dapat terwujud, harus didukung oleh kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, tegaknya aturan hukum, berjalannya alam demokrasi yang semakin baik, tidak ada korupsi, meningkatnya kesadaran hukum di masyarakat, tegaknya kejujuran, terwujudnya kemandirian, serta kerja sama yang baik di antara semua elemen bangsa.
Semua komponen bangsa harus menyadari dan bersatu padu merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. Tidaklah diperbolehkan ada sekelompok orang yang menyebut sebagai kelompok paling Pancasilais, paling NKRI, dan paling Bhinneka.
Semua persyaratan dan kompetensi demikian dapat terwujud dengan adanya spirit Ramadhan, terutama bagi orang-orang yang berhasil dalam menjalankan ibadah puasa maupun ibadah-ibadah lainnya.
Nikmat Perbedaan
Islam sangat menghargai perbedaan. Agama ini sangat menghormati kemulti-etnisan, kemulti-budayaan, dan kemulti-agamaan, serta selanjutnya mengajarkan kebijaksanaan untuk membangun kemajuan bangsa melalui karakter yang telah dibangun selama bulan suci Ramadhan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya kamu hidup saling mengenal, hidup rukun dan damai.”
Terhadap berbagai realitas persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia, tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan kesejahteraan hidup secara hakiki, kecuali dengan melakukan perubahan secara mendasar terhadap pola pikir dan perilaku dengan mengimplementasikan komitmen ketakwaan dalam bentuk amal saleh yang semakin meningkat, terutama setelah menjalankan ibadah Ramadhan.
Perintah agar orang -orang yang beriman senantiasa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik telah ditegaskan Allah dalam QS Al Hasyr ayat 18, “Hai orang yang beriman, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan hendaklah kamu menghitung-hitung amalan yang telah kamu lakukan untuk kemudian dievaluasi dan ditingkatkan di masa mendatang. Bertakwalah kamu kepada Allah dan sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam sebagai ajaran telah memerintahkan umatnya agar senantiasa melakukan perubahan hidup yang lebih baik, dinamis, atau selalu berorientasi kepada kemajuan umat Islam, bahkan progresif.
Allah memberikan waktu selama satu bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan kepada manusia yang beriman untuk melakukan perubahan terhadap dirinya, yaitu karakter dalam amal saleh melalui latihan-latihan atau pendidikan selama menjalankan ibadah puasa.
Implementasi keimanan dalam bentuk amal saleh itulah yang disebut takwa. Oleh karenanya, orang yang berperilaku jujur, disiplin, tidak sombong, bersedekah, berinfak, berzakat, bersabar, dapat menahan nafsu marah, pemaaf, senantiasa bersyukur, berilmu, dinamis, dan berkemajuan adalah karakter dari orang-orang yang bertakwa.
Pesan inilah yang diharapkan dapat terbentuk secara menyeluruh dan komprehensif bagi orang-orang yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Hanya dengan didasari iman dan semata-mata mengharap ridha Allah, pembentukan karakter takwa melalui kesalehan sosial tersebut yang menjadi tujuan orang berpuasa.
Ramadhan Pembentuk Karakter
Ahmad Sarbasri juga berpendapat bahwa tidak ada momentum lain yang efektif dan efisien dalam membangun karakter diri seseorang selain momentum Ramadhan. Di samping itu, orang-orang yang puasanya telah berhasil karena didasari oleh imanan wahtisaban akan mampu membentuk karakter seseorang yang mempunyai profesionalitas tinggi, sekaligus memiliki produktivitas yang baik.
Dalam berpuasa, seseorang dilatih memiliki perilaku disiplin tinggi dan tanggung jawab besar, berkomitmen meningkatkan ilmu, serta termotivasi untuk maju dan mampu mengelola waktu secara tepat, juga senantiasa berserah diri hanya kepada Allah SWT. Selainnya, puasa Ramadhan bisa menjadikan seseorang cerdas secara sosial, emosional, dan spiritual.
Hal itu dibuktikan dengan karakter seseorang yang gemar beribadah, tidak kikir dalam keadaan lapang maupun sempit, serta tidak pemarah dan menjadi orang yang pemaaf.
Sifat sedemikian sangat bisa dipastikan akan memunculkan karakter seseorang yang senang bersilaturahmi, tidak pernah merasa paling benar, mau mendengar nasihat orang lain, senang apabila melihat saudara atau temannya menerima nikmat dari Allah atau tidak punya sifat iri dan dengki.
Menurut Imam Al Ghazali, apabila seorang Muslim telah memiliki sifat yang seperti itu, berarti telah terbebas dari sifat sombong. Dengan kata lain, puasa Ramadhan yang benar sesuai dengan syariat agama dapat membebaskan seseorang dari sifat sombong.
Sikap inilah yang menjadi komitmen Rasulullah dalam membangun dan menegakkan umat wasathan atau umat yang teladan. Karena, kesombongan dapat merusak tatanan berkehidupan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Diriwayatkan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah masuk surga, apabila di dalam hatinya masih ada sifat sombong meskipun sebesar biji sawi.”
Meneladani perilaku Nabi Muhammad SAW, umat Islam dituntut untuk memberi teladan yang baik dalam berperilaku, serta mengambil kebijakan secara kolektif.
Momentum Ramadhan dan Idul Fitri tak lain sebentuk pencerahan diri dalam upaya membangun pribadi yang utama dalam rangka mewujudkan karakter bangsa yang unggul dan berbasis takwa. Pribadi yang bersih lahir-batin, gemar beribadah, berlomba-lomba dalam amal saleh, serta tampil menjadi manusia yang bertakwa dalam situasi apa pun dan di mana pun.
