Akankah Gen Z menjadi Generasi yang Hilang? :

Akankah Gen Z menjadi Generasi yang Hilang?

Gen Z seperti adanya sekarang adalah bentukan para orang tuanya, Gen X.


Dony Hidayat Al-Janan
Alumnus Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta
Akademisi Universitas Negeri Semarang

 

Generasi Z atau jamak disebut ‘Gen Z’ sering dikabarkan sebagai generasi yang malas, rentan terhadap stres, mudah menyerah, bahkan memilih untuk mengakhiri hidupnya daripada tumbuh diri. Sebuah fenomena yang layak dikaji, karena bersangkut paut dengan keberlangsungan sebuah bangsa. Mari membahasnya, perlahan tapi pasti.

Lahirnya generasi baru merupakan hasil kerja dari generasi sebelumnya. Gen Z yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012 dilahirkan oleh generasi X yang lahir pada rentang waktu 1965 hingga 1980. Artinya, kelemahan Gen Z bukan dibentuk oleh generasi itu sendiri, tetapi juga andil dari generasi sebelumnya.

Maklum adanya bila setiap orang tua menginginkan kehidupan yang lebih mudah dan sejahtera bagi anak-anaknya di semua sektor kehidupan. Dengannyalah anak tumbuh dalam fasilitasi yang sangat mencukupi bahkan melebihi yang dibutuhkan.

Belum lagi, ketika memilih dan mengambil kebijakan dalam mendidik anak-anaknya, para orang tua sering kali terganggu oleh penilaian lingkungan sekitar. Akhirnya, independensi mendidik anak terditorsi oleh kondisi sosial. Para orang tua ‘ketakutan’ dalam mendidik anak jika dianggap galak, pelit, dan sebagainya.

Pada sisi yang lain, sebagian orang tua merasa bangga jika dapat memelihara anak dengan sehat, dan mampu memfasilitasi anak dengan teknologi terkini.

Pilihan pola pendidikan orang tua kepada anaknya inilah yang kemudian membentuk anak menjadi lemah. Lemah karena semua hal difasilitasi dengan mudah. Lemah karena dilemahkan oleh fasilitasi yang diberikan oleh orang tua yang hanya ingin memudahkan anaknya, sekaligus dianggap sukses di mata masyarakat.

Bergantung pada Teknologi

Melengkapi pola asuh orang tua, perkembangan teknologi ikut andil mempengaruhi kemampuan sebuah generasi. Teknologi dikembangkan untuk mencukupi manusia, semakin memanjakan diri, dengan prinsip ‘penuhi kebutuhannya, ciptakan keinginannya, sehingga membuat mereka tergantung’. Semua itu menjadikan manusia tak ubahnya mangsa dari teknologi yang diciptakannya sendiri.

Pendidikan menjadi faktor yang memperkuat kedua faktor tersebut. Indonesia yang hingga kini masih mencari format pendidikan, belum mempunyai wujud yang integratif dan konvergen; maunya ke mana serta apa yang dituju.

Cita-cita luhur guru bangsa, Ki Hajar Dewantara, terdistorsi oleh keinginan kesejajaran dengan bangsa lain. Praktiknya, kesejajaran dimaknai dengan menganggap jumlah karya jurnal ilmiah terakreditasi lebih utama dibandingkan berfokus pada kualitas generasi muda.

Guru dan dosen yang seharusnya menjadi panutan, atau begawan yang dihormati oleh masyarakat karena keilmuan dan kebijaksanannya, dipaksa berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dapurnya. Pun adanya perjuangan Upah Minimal Regional (UMR) layak yang lebih seksi dibanding Upah Minimal Guru (UMG) yang hingga sekarang masih sebatas mimpi.

Guru dan dosen enggan disebut sebagai pendidik. Mereka tak ubahnya seorang pengajar yang menyampaikan materi sekaligus petugas administrasi dan penyusun laporan dengan sistem yang terus berganti.

Para guru dan dosen tidak harus memedulikan masalah akhlak perserta didiknya. Karena, banyak orang tua menitipkan anak-anaknya di sekolah hanya untuk mendapatkan ijazah; bukan untuk dididik moralnya, seperti di rumah.

Jika nilai siswa tidak memenuhi kompetensi maka guru yang menjadi kambing hitam. Daripada dipersalahkan, para guru memilih untuk meloloskan para siswa. Mereka ‘lolos’, bukan ‘lulus’. Oleh karenanya, ketika keaslian kompetensi itu benar-benar dibutuhkan maka yang terjadi adalah ketidakpercayaan publik pada sistem pendidikan.

Lihatlah. Bahkan hingga skill dasar seperti membuang sampah pada tempatnya pun terlewatkan untuk dijadikan karakter yang dibentukkan para guru bagi seorang pelajar. Berapa banyak tempat sampah kosong dengan sampah yang berserakan di sekitarnya.

Bagaimana dengan Masyarakat?

Masyarakat semakin acuh dengan Gen Z. Labelling sebagai generasi yang tidak tahu adab, gampang putus asa, dan berbagai macam label negatif lainnya seolah menjadi penutup ikhtiar masyarakat untuk mengontrol generasi ini. Pun dengan pudarnya nilai-nilai budaya ketimuran yang penuh dengan adab dan etika, menjadikan kemerosotan prestasi Gen Z kian teramini.

Empat gambaran besar itulah yang membentuk Gen Z, yakni pola asuh orang tua berpadu dengan perkembangan teknologi yang memanjakan, sekaligus sekolah yang tanpa tantangan, serta masyarakat yang tak peduli. Semua itu menjadikan daya juang mereka berkurang.

Gen Z tumbuh dalam perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang pesat. Mereka hidup dalam kemapanan. Berbagai fasilitas mereka dapatkan dengan mudah. Hampir semua lini kehidupan sudah terjamah oleh AI, hingga skripsi pun bisa terselesaikan dengan bantuan AI.

Sama halnya dengan kebutuhan makan. Gen Z tidak perlu hengkang dari ruang. Mereka cukup memesannya dan makanan pun datang.

Pola hidup yang seolah dari AI ke AI itulah yang dapat menyebabkan penggunanya lupa akan jati diri. Mereka larut dalam teknologi tanpa mampu mengendalikannya.

Apa yang terjadi kemudian? Keyakinan terhadap diri pun semakin merosot, sehingga fenomena you only live once semakin merebak. Jika Gen-Z dihadapkan kepada masalah, mereka akan lari ke gadget dan bertanya kepada Google. Jika ternyata gadget mereka anggap tidak mampu mengatasi masalah mereka, lalu shutdown. Karena, menurut mereka, hidup hanya sekali.

Akhir dari Generasi?

Gen Z perlu menyadari kondisinya sekarang, sehingga dapat mempersiapkan masa depannya. Dengan seperti itu, Gen Z tidak menjadi generasi akhir dalam peradaban manusia.

Seperti yang pernah dikatakan dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang, Ahmad Mujaki, dalam sebuah acara bertajuk Temu Kalam Literasi Lintas Tiga Generasi, beberapa waktu yang lalu bahwa kesadaran terhadap diri sangat diperlukan untuk menentukan tujuan hidup. Karena, kemampuan menentukan tujuan hidup lebih utama dari tujuan hidup itu sendiri.

Gen Z butuh kemampuan mengontrol diri agar tidak tergantung pada teknologi. Itulah perlunya belajar untuk mencari, menemukan, mengelola, dan menumbuhkan kemampuan diri sendiri yang akan menjadi bekal hidup kini dan nanti.

Semakin lama menggunakan AI menjadi kerentanan terhadap keyakinan diri. Akhirnya, bukan proses belajar yang dibangun dari kesadaran yang dialami, tapi yang terjadi hanyalah kebanggaan semu terhadap kemahiran penggunakan AI yang menjebak dalam ketergantungan. Mereka lantas berpikir, tanpa AI maka matilah; tanpa gadget maka tamatlah.

Perlu adanya kesadaran bahwa manusia merupakan makhluk pribadi sekaligus makluk sosial. Manusia tak akan mempunyai makna tanpa adanya manusia lain. Karena, eksistensi diri juga merupakan kebutuhan. Pun proses kejadian sebuah generasi terjadi dari hubungan harmonis yang berhubungan langsung; bukan daring maupun wireless.

Sementara itu, semakin banyak menggunakan media komunikasi, secara tidak langsung dapat menjadikan keengganan bahkan kebodohan untuk bersosialisasi secara langsung. Sebab, mereka memilih untuk bertatap maya daripada bertatap mata. Mereka memilih untuk berkirim pesan dengan gawainya daripada berdialektika dalam beda asa dan kata.

Tantangan ke depan akan semakin masif. Teknologi nirkabel semakin mendekati diri manusia. Dan searah dengan perkembangan teknologi tersebut juga terjadi perubahan peradaban dan keyakinan manusia dari budaya promordialnya.

Hingga akhirnya lahir gerakan free sex no married, free child, bahkan homo sex. Gerakan-gerakan itu menjadi keniscayaan ketika manusia tidak lagi mengindahkan fungsi-fungsi sebagai pemimpin di muka buku (khalifatullah) sekaligus hamba Tuhan (abdillah).

Disebabkan ketimpangan ini, banyak negara maju mempunyai jumlah orang tua yang lebih banyak dibanding dengan generasi sesudahnya Tentu hal itu menimbulkan masalah sosial yang lebih kompleks.

Sebagian orang lupa bahwa manusia tidak hanya makhluk jasmani, tetapi juga ruhani. Bahkan kebahagiaan yang menjadi tujuan manusia pun bersifat ruhani.

Di dalam Islam, seorang Muslim wajib stop dan taking a rest dari ketergantungan akan teknologinya bahkan hidupnya, minimal lima kali sehari, dengan menunaikan shalat fardhu. Mungkin hal ini sebagai media untuk mendidik seorang Muslim agar selalu mengenal diri, belajar tentang kedirian, sehingga mampu memberikan salam, keselamatan, serta kebergunaan bagi lingkungannya.

Sementara itu, sebagai orang tua dan guru di masa kini, tidaklah cukup hanya dengan permisif terhadap keadaan Gen Z. Jangan biarkan mereka termanjakan teknologi dan terlelap dalam angan. Mari membangkitkan kesadaran mereka sebagai amanah untuk membentuk generasi yang lebih baik.

Jika orang tua dan guru sudah mampu bersinergi untuk berfokus mendidik, bukan hanya mengajar, dengan memilihkan dan membiasakan kebiasaan yang benar—bukan hanya membenarkan kebiasaan—maka terbentuknya masyarakat yang saling peduli dan mengingatkan bukan lagi hanya impian.

Tentu saja, hal ini akan menjadi gerakan sistemik jika dimotori oleh pemerintah dalam kebijakan yang tidak hanya memikirkan kepentingan politik sesaat, tetapi masa depan bangsa yang lebih cerah.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik