Beberapa anggota Pers Mahasiswa Pabelan UMS generasi awal 2000-an berfoto bersama. (Pabelanesia)
Menantikan Setengah Abad Pers Mahasiswa Pabelan UMS : Beberapa anggota Pers Mahasiswa Pabelan UMS generasi awal 2000-an berfoto bersama. (Pabelanesia)
Beberapa anggota Pers Mahasiswa Pabelan UMS generasi awal 2000-an berfoto bersama. (Pabelanesia)

Menantikan Setengah Abad Pers Mahasiswa Pabelan UMS

Dalam semua narasi keberhasilan UMS, ada Persma Pabelan yang penuh dedikasi menyejarahkannya.


Arif Giyanto
Chairman Pandiva
Alumnus IESP UMS 1999
Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS 2002

 

Pada 19 Maret 2027 nanti, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) genap berusia 50 tahun. Didirikan oleh Agus Sumiyanto, seorang mahasiswa IKIP Muhammadiyah Surakarta, unit kegiatan mahasiswa (UKM) tingkat universitas yang awalnya bernama Mentari ini telah dan akan terus memproduksi ribuan tulisan tentang Kampus Pabelan, khidmat Persyarikatan, dan isu-isu kebangsaan.

Pers Mahasiswa (Persma) Pabelan lahir semasa kepemimpinan Mohamad Djazman Al Kindi, Rektor terakhir IKIP Muhammadiyah Surakarta periode 1976-1980. Mengapa terakhir? Karena pada 1980, kampus ini bertransformasi menjadi UMS dan resmi beroperasi tahun 1981.

Resmi menyandang nama IKIP Muhammadiyah Surakarta pada tahun 1965, sebelumnya publik Solo mengenalnya sebagai FKIP Muhammadiyah Surakarta yang berdiri pada 18 September 1958. Tahukah Anda, ketika itu, kampus ini menjadi perguruan tinggi Muhammadiyah daerah pertama mendahului Yogyakarta, Malang, Surabaya, Semarang, Makassar, dan kota-kota lainnya.

Semua catatan tersebut dapat Anda jumpai pada buku karya Agus Sumiyanto berjudul Karsa Perubahan Universitas Muhammadiyah Surakarta 1958-2025 terbitan Pandiva. Beruntung bagi saya, karena saya terlibat dalam pengerjaannya.

Secara strategis, penerbitan buku ini menjadi bukti bahwa Persma Pabelan adalah ‘penjaga ingatan kolektif UMS’. Meski teknisnya, sumbangsih itu tidak hanya dari organisasi, tapi juga para alumninya yang kemudian mengabdi untuk UMS, baik sebagai Humas atau pendidik.

Berperan penting atas penyimpanan dan penyediaan catatan autentik dari masa lalu hingga sekarang, tidak dapat dipungkiri, Persma Pabelan telah berubah menjadi sumber sejarah primer atau sumber autentik kesejarahan UMS. Mesin produsen citra tanpa pesanan khusus, tapi dinamis sefrekuensi dengan realitas semasanya. 

Persma Pabelan merekam denyut nadi, dinamika intelektual, peristiwa penting, hingga pasang surut perjalanan UMS dari era IKIP Muhammadiyah Surakarta hingga bertransformasi menjadi UMS. Dokumentasi historiografi, berupa produk jurnalistik seperti buletin, tabloid, majalah, hingga arsip digital yang diterbitkan Persma Pabelan sejak 1977 merupakan bukti sejarah tertulis yang kesahihannya sangat dibutuhkan untuk merekonstruksi sejarah UMS.

Di samping ‘Penjaga Ingatan Kolektif’, Persma Pabelan dapat pula disebut sebagai sejarawan yang bekerja organik menyusun historiografi UMS. Dalam konteks kajian budaya, peran ini dilabeli dengan ‘arsitek narasi’ dan ‘pembentuk wacana’ yang secara sadar merumuskan, membingkai (framing), dan memproduksi narasi identitas UMS.

Semula Persma Pabelan sebatas unit kegiatan mahasiswa. Namun, lama-kelamaan berkat sumbangsih ribuan narasi tentang UMS telah menempatkannya sebagai entitas vital pembentuk jati diri Kampus Pabelan. Sebuah eksistensi yang sebenarnya tidak direncanakan khusus, tapi terjadi begitu saja, karena menjadi saksi zaman yang menulis dan bercerita tentang UMS.

Komparasi Eksistensi

Apakah persma di perguruan tinggi lain, baik negeri maupun swasta, hingga dalam atau luar negeri eksis seperti Persma Pabelan? Jawabannya mudah, belum tentu. Sebab, banyak persma di dunia ini yang hidup-mati sesuai kebijakan dan dinamika kampusnya.

Satu yang bisa dirujuk, yakni The Harvard Crimson. Lahir pada 24 Januari 1873, awalnya Crimson bernama The Magenta atas prakarsa sekelompok mahasiswa tingkat sarjana Universitas Harvard yang bertekad membangun pers kampus independen. Setelah bernama The Crimson pada tahun 1875, perlahan kemudian bertransformasi menjadi kawah candradimuka jurnalis-jurnalis peraih Pulitzer. Franklin D. Roosevelt dan John F. Kennedy adalah dua alumnus The Crimson.

Persma Pabelan dan The Crimson memiliki kesamaan yang sangat fundamental, terutama dalam hal posisi dan peran strategis mereka di lingkungan kampus masing-masing. Dikelola sepenuhnya secara mandiri oleh mahasiswa tanpa intervensi rektorat, dua lembaga ini konsisten menerbitkan produk media massa mahasiswa.

The Crimson memberikan kontribusi yang sangat vital bagi sejarah Universitas Harvard dengan menjalankan peran sebagai penjaga ingatan kolektif, saksi kritis, sekaligus pengawal dinamika intelektual kampus selama lebih dari 150 tahun.

Melalui arsip harian yang konsisten sejak 1873, The Crimson merekam pasang surut transformasi Harvard, mulai dari perdebatan kurikulum akademik, pergeseran sosial-politik mahasiswa, hingga momentum-momentum krisis nasional, seperti era Perang Dunia dan gerakan hak-hak sipil. Tanpa catatan harian mereka, banyak sisi humanis dan catatan kritis sejarah Harvard yang akan hilang.

The Crimson juga menjadi pengawas kritis (watchdog) birokrasi. Sebagai pers yang independen, The Crimson gemar menyajikan suara kritis demi mengawal kebijakan kampus, mendorong transparansi administratif, serta mengangkat isu-isu kesetaraan dan kebebasan akademik di lingkungan Harvard.

Kontribusi terbesar The Crimson juga terletak pada pencetakan kader-kader kepenulisan yang tangguh. Melalui gemblengan ruang redaksi yang ketat, The Crimson melatih ribuan mahasiswa, termasuk mereka yang kelak menjadi para tokoh dan pemimpin nasional, untuk memiliki ketajaman analisis, integritas naratif, dan keberanian moral.

Dalam buku Keeping the Old Sheet Flying: 125 Years of the Harvard Crimson yang diterbitkan khusus untuk memperingati 125 tahun perjalanan mereka menyajikan catatan kronologis sejarah, dinamika ruang redaksi, serta esai-esai yang merekam bagaimana The Crimson menjadi saksi perubahan sosial dan institusional di Harvard.

Buku setebal sekitar 147 halaman itu memuat esai-esai reflektif dari para alumni redaksi, arsip liputan penting, serta kilas balik bagaimana sebuah koran kampus yang dikelola sepenuhnya oleh mahasiswa mampu bertahan, independen, dan menjadi pencetak para tokoh besar dunia selama lebih dari satu abad.

Transformasi arsip, laporan investigasi, dan catatan harian The Crimson dalam wujud buku atau kompilasi literatur membuktikan bahwa pers mahasiswa tidak hanya berdampak secara institusional di dalam kampus, tetapi juga memberikan sumbangsih yang sangat besar bagi khazanah ilmu pengetahuan dan historiografi modern. Terlebih merepresentasi Harvard yang diakui dunia.

The Crimson adalah pembanding terbaik bagi Persma Pabelan. Selain lebih dahulu eksis, beberapa kesamaan fundamental senyatanya bermuara pada kepenulisan sejarah kampus masing-masing.

Refleksi Setengah Abad

Untuk menyambut momentum setengah abad kiprah Persma Pabelan, saya menginisiasi penerbitan buku bunga rampai berjudul Neverending Pabelan: Padu Padan Tulisan dan Perubahan berisi esai-esai reflektif para alumni tentang life after Pabelan. Rupaneka catatan ini menjadi penguat legitimasi sumbangsih Persma Pabelan yang tidak hanya di lingkup internal kampus UMS, tapi jauh hingga kemaslahatan global.

Buku ini menjadi bukti ke sekian tentang persma Pabelan sebagai pembentuk karakter dengan modal mental, intelektual, dan profesional yang sangat tangguh. Sebagai baseline bagi kehidupan pascakampus, pengalaman semasa aktif senyatanya membentuk fondasi keberanian moral dan independensi berpikir, ketahanan mental di bawah tekanan, kapasitas intelektual dan kecepatan sintesis informasi, serta jejaring sosial (network) yang organik.

Sewaktu aktif di ruang redaksi, Pabelanis terbiasa menghadapi tekanan dari birokrasi, menguji informasi secara kritis, dan memegang teguh prinsip independensi. Ketika mereka lulus dan terjun ke masyarakat, baik sebagai petani, nelayan, birokrat, pengusaha, politisi, aktivis, maupun akademisi, mentalitas ‘tidak mudah didikte’ dan keberanian menyuarakan kebenaran menjadi pegangan moral yang melekat seumur hidup.

Tenggat waktu (deadline) yang ketat, liputan investigasi yang berisiko, perdebatan sengit saat rapat redaksi, hingga tuntutan pertanggungjawaban publik menempa awak pers mahasiswa dengan toleransi stres yang tinggi. Bagi para alumni, tekanan sebesar apa pun di dunia profesional atau dunia kepemimpinan pascakampus terasa ‘sudah biasa dihadapi’, karena telah terlatih menyelesaikannya sejak usia belasan atau duapuluhan tahun di ruang redaksi.

Terbiasa meriset isu-isu pelik, mewawancarai narasumber penting, dan menyarikan gagasan rumit menjadi tulisan yang mudah dipahami publik melatih otak para alumni untuk berpikir sistematis. Dalam kehidupan setelah kampus, kemampuan menyintesis informasi secara cepat dan akurat ini menjadi keunggulan komparatif di bidang apa pun yang mereka geluti.

Ruang redaksi adalah kawah candradimuka tempat bertemunya pikiran-pikiran terbaik lintas angkatan. Ikatan emosional dan intelektual yang terbentuk di sana melahirkan jejaring alumni yang solid, saling mendukung, dan menjadi pilar penting dalam pergerakan sosial maupun profesional di luar kampus.

Lihatlah, Persma Pabelan berfungsi sebagai titik nol yang solid. Apa pun profesi yang dipilih para alumninya di kemudian hari, cara pandang, etos kerja, dan integritas yang mereka bawa ke dunia luar sebagian besar diletakkan dan diasah dari balik meja redaksi tempat mereka pernah berproses.

Usia setengah abad tentu saja istimewa. Jauh sebelum tiba pada momentum ini, sebagian pendahulu Persma Pabelan telah wafat. Ada yang sempat menitipkan manuskrip, mewasiatkan gagasan, atau memberi dukungan tak berseri. Namun, ada pula yang berpulang dengan kebaikan yang belum sempat tertuliskan.

Kini, Universitas Muhammadiyah Surakarta telah menjadi kekuatan perubahan yang signifikan. Lebih dari sejuta alumninya tersebar ke seluruh dunia membawa nilai-nilai keilmuan dan keislaman. UMS bukan lagi kampus kecil yang terkepung areal persawahan dan menjadi pilihan ke sekian setelah perguruan tinggi negeri.

Kiprah para pendiri dan penerusnya menjadikan UMS begitu diandalkan Persyarikatan serta bangsa dan negara. Siapa sangka, dalam semua narasi keberhasilan itu, ada Persma Pabelan yang penuh dedikasi menyejarahkannya.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik