Presiden Prabowo Subianto membincangkan situasi geopolitik dunia saat berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar, di Istana Merdeka, Kamis (5/3/2026). (BPMI Setpres)
Belajar dari Perjuangan dan Ketangguhan Iran : Presiden Prabowo Subianto membincangkan situasi geopolitik dunia saat berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar, di Istana Merdeka, Kamis (5/3/2026). (BPMI Setpres)
Presiden Prabowo Subianto membincangkan situasi geopolitik dunia saat berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU Miftachul Achyar, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Anwar Iskandar, di Istana Merdeka, Kamis (5/3/2026). (BPMI Setpres)

Belajar dari Perjuangan dan Ketangguhan Iran

Bangsa yang memiliki ideologi, memori kolektif perjuangan, dan kesediaan berkorban, tidak mudah ditundukkan.


Umar Jahidin
Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah
Alumnus FAI UMS dan Pondok Shabran

 

Saya kembali teringat Perang Iran–Irak (1980–1988). Sebuah konflik panjang yang membentuk wajah baru geopolitik Timur Tengah modern. Saat itu, Irak di bawah kepemimpinan Saddam Hussein dan memperoleh dukungan luas dari negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.

Mengapa demikian? Setahun sebelumnya, 1979, terjadi peristiwa besar yang mengguncang tatanan politik global. Revolusi Iran menggulingkan Mohammad Reza Pahlavi, penguasa Iran yang dikenal pro-Barat dan dekat dengan Washington.

Iran kemudian memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Ruhollah Khameini, tokoh spiritual yang memimpin lahirnya Republik Islam Iran. Sejak saat itu, Iran bukan lagi sekadar negara-bangsa biasa, tetapi sebuah entitas ideologis yang menggabungkan nasionalisme Persia, Islam politik, dan semangat anti-hegemoni Barat.

Pada tahun 1987, saya kebetulan memimpin Lembaga Pers Mahasiswa Pabelan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Saat itu, kami mengangkat Laporan Utama tentang konflik Iran–Irak. Hampir dua pekan kami melakukan riset dengan mengumpulkan artikel, berita, opini, serta literatur tentang konfigurasi politik Timur Tengah.

Salah satu pemikir yang banyak menjadi rujukan kala itu adalah Amien Rais yang dikenal luas sebagai pengamat politik Timur Tengah dengan perspektif tajam dan argumentatif. Tulisan-tulisan serta wawancaranya di berbagai media arus utama menjadi referensi penting dalam laporan tersebut.

Tidak disangka, menjelang waktu terbit, saya dipanggil oleh Rektor UMS itu, Djazman Al-Kindi. Dengan penuh wibawa, ia meminta agar laporan majalah tersebut dicabut dan diganti tema lain. Saya tidak berani membantah.

Seingat saya, beliau berkata, “Indonesia lebih memihak Irak ketimbang Iran.”

Tulisan kami memang lebih menyoroti ketangguhan Iran. Sebuah negara yang baru saja keluar dari revolusi besar, dengan ekonomi yang terguncang serta militer yang belum stabil, tetapi mampu bertahan menghadapi agresi Irak yang didukung kekuatan besar dunia.

Pak Djazman menambahi pernyataannya dengan nada realistis, “Mungkin benar Iran berperang mempertahankan diri dari agresi Irak dan karenanya kita bersimpati. Tapi politik kita—walau bebas aktif—lebih condong ke Barat.”

Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun itu membuktikan satu hal bahwa Iran tidak runtuh. Meski menghadapi embargo, tekanan diplomatik, serta dukungan militer Barat kepada Irak, Iran tetap berdiri. Tidak ada perubahan rezim dan tidak ada kehancuran total.

Dari perang itulah lahir karakter Iran modern, yakni mentalitas bertahan (resilience state), kemandirian militer, investasi serius pada sains dan teknologi, serta politik luar negeri yang konfrontatif terhadap dominasi Barat.

Memori historis tersebutlah yang menjelaskan kepada saya bahwa mengapa hingga hari ini, dalam berbagai ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Negeri Persia itu benar-benar tidak merasakan takut sedikit pun.

Setiap tekanan ekonomi, sanksi, atau ancaman militer terhadap Iran sering kali berujung pada paradoks. Bukannya melemah, Iran justru semakin mengonsolidasikan diri dan semakin kohesif. Pengalaman panjang revolusi Islam Iran sejak 1979 membentuk keyakinan kolektif bangsa itu bahwa tekanan eksternal adalah keniscayaan dan perlawanan adalah bagian dari identitas nasional.

Bagi Amerika dan Israel, Iran bukan sekadar negara lawan, tetapi simbol perlawanan terhadap tatanan geopolitik yang mereka bangun di kawasan. Namun sejarah menunjukkan, Iran bukan aktor yang mudah dipatahkan. Perang 1980–1988 adalah bukti awalnya.

Sejarah memang tidak selalu bergerak lurus. Tetapi Iran memberikan satu pelajaran penting. Bangsa yang memiliki ideologi, memori kolektif perjuangan, dan kesediaan berkorban, tidak mudah ditundukkan, meski ditekan oleh kekuatan besar sekalipun.

Dan kenangan pribadi saya pada tahun 1987 menjadi saksi sejarah bagaimana isu Iran bahkan beresonansi sampai ke ruang-ruang akademik di Indonesia.

Perang Belum Usai

Perkembangan terakhir di kawasan Timur Tengah kembali menunjukkan bahwa ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel belum pernah benar-benar berakhir. Setelah beberapa dekade permusuhan yang berakar sejak Revolusi Iran 1979, konflik kini memasuki fase baru yang lebih terbuka dan langsung.

Semenjak Perang Israel-Iran selama 12 hari pada Juni 2025, ternyata sampai tulisan ini dibuat, serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai fasilitas strategis Iran, termasuk instalasi militer dan program nuklir, terus bergulir bahkan menjadi eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.

Iran merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap target-target Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan. Pertukaran serangan tersebut menandai salah satu konfrontasi paling berbahaya di Timur Tengah sejak berakhirnya Perang Iran-Irak pada 1988.

Ketegangan tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga mengguncang ekonomi global. Ancaman terhadap jalur energi strategis seperti Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak dan menimbulkan kekhawatiran global terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Namun, jika kita menengok kembali sejarah Iran—mulai dari Revolusi 1979 hingga perang delapan tahun melawan Irak—maka pola yang muncul sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Tekanan eksternal yang sangat keras justru sering kali memperkuat konsolidasi internal Negara Mullah.

Bagi Iran, konflik dengan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya dipandang sebagai persaingan geopolitik biasa, tetapi bagian dari narasi historis tentang kedaulatan, identitas nasional, dan perlawanan terhadap dominasi asing. Dalam perspektif itu, sanksi ekonomi, tekanan diplomatik, bahkan ancaman militer sering diterjemahkan sebagai ujian yang harus dihadapi, bukan alasan untuk menyerah.

Tentu saja, masa depan konflik ini masih penuh ketidakpastian. Eskalasi yang terus meningkat berpotensi melibatkan lebih banyak aktor regional dan global. Risiko salah perhitungan juga sangat besar dalam situasi yang sangat tegang seperti sekarang.

Namun satu lagi hal yang dapat dipetik dari perjalanan panjang Iran. Negara yang terbiasa hidup dalam tekanan geopolitik luar biasa justru dapat membentuk mentalitas bertahan yang kuat. Sebuah karakter yang membuat Iran sering kali tampil lebih tangguh daripada yang perkiraan banyak pihak.

Sejarah mungkin tidak selalu berpihak kepada negara yang paling kuat secara militer, tetapi sering berpihak kepada bangsa yang memiliki daya tahan, memori perjuangan, dan keyakinan kolektif untuk bertahan. Dan Iran, setidaknya hingga kini, tampak masih berdiri kokoh di atas fondasi sejarah yang telah dibangunnya.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik