Belajar Asketisme Modern dari Penulis Alumnus PMII, Joko Priyono :

Belajar Asketisme Modern dari Penulis Alumnus PMII, Joko Priyono

/ Inspirasi

Gejala konsumerisme yang linier dengan ancaman krisis ekonomi benar-benar di depan mata.


Taufik Nandito
Founder Sala Library
Alumnus Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Adalah Joko Priyono, seorang pegiat literasi alumnus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berdomisili di Kleco. Fisikawan partikelir asal Boyolali tersebut tak lain penulis buku PMII dan Bayang-Bayang Revolusi Industri 4.0 serta Transformasi Keempat PMII.

Beberapa waktu lalu, saya berkunjung ke kediamannya dan berkesempatan untuk membincangkan langkah-langkah terbaik saat berhadapan dengan krisis ekonomi. Sebuah tema tak lekang zaman yang relatif reflektif bahkan inspiratif.

Seperti diketahui, krisis ekonomi tengah melanda berbagai belahan dunia beberapa tahun terakhir. Sementara di Indonesia, terjadi gelombang pemutusan tenaga kerja, melejitnya biaya hidup, hingga melemahnya daya beli masyarakat.

Di tengah kondisi itu, Joko Priyono melihat perlunya sebuah sikap hidup yang menekankan kesederhanaan, disiplin, dan kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Saat ini masyarakat dibayangi oleh gejala konsumerisme, yakni ketika gaya hidup menjadikan seseorang terus-menerus mengkonsumsi atau membeli barang dan jasa secara berlebihan. Menurut Joko, salah satu faktor konsumerisme terkini berupa penetrasi konten media sosial yang tidak tersaring penggunanya.

Konten media sosial ini sifatnya merayu dan membujuk, tanpa pengendalian berupa penyaringan, akan membawa masyarakat menjadi konsumen berbagai produk, sehingga menjadi masyarakat konsumsi dan satu dimensi.

Pria yang sering menulis esai di pelbagai media massa itu mengatakan, perilaku yang mudah terbius konten media sosial akan menjerumuskan individu pada pemborosan.

Pemborosan bukan hanya berujung belanja dengan hasrat tak terkendali, melainkan juga waktu. Padahal, waktu bisa dimanfaatkan untuk hal-hal produktif sesuai kemampuan individu. Waktu luang bisa digunakan untuk pengembangan diri yang bermanfaat. Namun kenyataannya, banyak orang yang menggunakan waktu luang untuk scroll-scroll media sosial yang tidak perlu.

Pengagum ilmuwan Karlina Supelli tersebut beranggapan bahwa konten media sosial bisa membuat para penggunanya terjebak pada perilaku mengintip atau voyeurisme. Voyeurisme digital bukanlah sesuatu yang bersifat seksual, melainkan kebiasaan untuk melihat konten secara sekilas, tanpa pencarian mendalam berdasar keinginan belajar.

Perilaku mengintip ini pada akhirnya mendorong perilaku konsumsi kian tinggi. Banyak akhirnya yang terjerumus pada pinjaman daring akibat dorongan itu, sebab ingin menjadi bagian dari tren yang sedang berlangsung. Secara jangka panjang, hal itu dapat menciptakan situasi ‘besar pasak daripada tiang’. Apalagi ketika konsumsi dilakukan di luar kemampuan finansial.

Kesederhanaan sebagai Komoditas

Pada titik inilah, Joko melihat paradoks yang berkembang di Kota Solo. Kesederhanaan yang dahulu menjadi cara hidup, perlahan berubah menjadi komoditas. Joko melihat Solo sekian lama dicitrakan sebagai kota serbamurah dan nyaman untuk ditinggali. Namun, di balik itu, ada fenomena perubahan pola konsumsi masyarakat yang begitu intens.

Fenomena itu tampak dari berdirinya pelbagai coffee shop di banyak sudut Kota Solo, terutama yang sedang ramai dibicarakan di kawasan Slamet Riyadi. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa coffee shop adalah ruang konsumsi baru. Di tempat itu ada pengalaman sosial dan simbol identitas individu yang dibawa. Menurutnya, ini merupakan bagian dari gaya hidup urban.

Simbol identitas seperti misalnya pakaian yang digunakan merk apa, gawai apa, atau kendaraan seperti apa. Selalu ada cerita dan kisah ketika seseorang bertemu di coffee shop. Sebuah pola konsumsi masa kini.

Ia menilai itu sebagai sebuah penanda era baru masyarakat konsumsi. Cerita dan citra menjadi faktor yang lebih berpengaruh dalam membentuk nilai jual sebuah produk. Suatu makanan atau minuman dapat dihargai jauh lebih mahal, sebab ada narasi tertentu yang berhasil memikat perhatian publik.

Terkadang orang sebenarnya hanya ingin makan siomay. Tetapi yang dicari bukan lagi siomay secara umum, melainkan siomay yang sedang viral dan ramai dibicarakan. Ada identitas khusus yang melekat pada produk itu.

Maka itu, citra Solo sebagai kota dengan harga-harga murah kini harus dipikirkan ulang dan tidak bisa lagi menjadi citra kota. Hal ini terlihat misalnya dari harga-harga di hik wedangan yang telanjur dianggap sebagai tempat makan dengan harga terjangkau. Kenyataannya, biaya yang dikeluarkan pengunjung hik kini bisa jauh lebih besar, saat interaksi di sana berlangsung lebih lama.

Semakin lama seseorang duduk di tempat makan, semakin banyak yang dimakan. Artinya, semakin mahal pula harganya. Lagipula makanan di sana banyak yang merupakan titipan dari pedagang lain, dengan marginn yang pasti disesuaikan.

Kesederhanaan menurut Joko perlu dihidupkan lagi dengan asketisme dalam konteks modern sebagai sebuah etos hidup dan bukan karena keterdesakan. Asketisme dahulu pernah disuarakan oleh sejarawan legendaris, Sartono Kartodirdjo. Asketisme adalah etos melakoni hidup dengan olah jiwa dalam moral dan spiritual dengan menghilangkan keinginan atau hawa nafsu jasmaniah.

Asketisme bukan berarti anti-konsumsi. Bagian pentingnya, yakni memahami apa yang benar-benar dibutuhkan dan tidak berlebihan dalam berbelanja. Hal ini akan menjadi kemampuan untuk membedakan, mana kebutuhan dan mana keinginan, secara kritis.

Lebih lanjut, Joko menilai persoalan konsumerisme tidak dapat diselesaikan hanya melalui pilihan individu. Melihat kondisi mutakhir, ia menilai perlunya sebuah ruang diskusi dan obrolan lebih kritis.

Kelompok-kelompok terdidik, komunitas, akademisi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menghadirkan edukasi publik terkait persoalan tersebut. Lebih banyaknya ruang publik sebenarnya sebuah peluang untuk membicarakan konsumerisme yang lebih terbuka di mana-mana.


Berita Terkait

Mungkin Anda Tertarik